Sabtu, 12 April 2014

Drs Bambang Santoso : Ingin Hidup mulia dan Bahagia, Datangi Masjid (Dari buku Menguak Kehidupan Islam di Bali / MKIB)



Ulul albab memaksimalkan fungsi otak
Bismillah, alhamdu lillah, semoga apapun yang kita lakukan muaranya adalah ridha Allah Swt. Sebagai manusia yang merupakan makhluk paling sempurna yang dikaruniai bukan hanya jasmani yang demikian harmoni juga kemampuan akal yang demikian tinggi. Dalam bahasa Qur’an, bagi mereka yang bisa mengoptimalkan fungsinya dikelompokkan sebagai ulul albab. Ulul albab yang bermakna memiliki otak dan dimaksimalkan fungsinya. Hal ini sesuai dengan sebuah ayat yang menjadi favorit Rasulullah Saw selalu baca dalam shalat malam. Ayat tersebut adalah Qs Al Imron : 190-200.
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, ( Qs Al Imron : 190) dan seterusnya….
Konsideran dari Al Imran : 190 adalah Al Baqarah : 152 sebagai berikut :

Fadzkuruni adzkurukum, wasykuru li wala takfuruun,”  Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu[98], dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Jadi orang yang berfikir, ulul albab pada akhirnya adalah orang yang pandai bersyukur. Jika bersyukur akan ditambah nikmatnya, sebaliknya jika ingkar, maka siksa Allah amatlah pedih.



Belajar  dari masjid untuk tegakkan islam
Kalau kita melihat dunia sekarang yang jumlah penduduknya hampir 7 milyard. Dari 7 milyar itu 1,8 milyar diantaranya adalah umat islam. Khusus di Indonesia, sensus 2010 jumlah kita sudah sampai 236 juta penduduk. Dari jumlah itu umat islam kurang lebih 200 juta. Ketika diteliti lebih jauh, ternyata yang memiliki AlQur’an dirumahnya hanya 15%.

Artiya hanya 30 juta orang islam yang di rumahnya ada Qur’an. Dan dari 30 juta muslim yang punya Qur’an itu, ternyata yang bias membaca dengan baik dan mengkhatamkannya hanya 2%. Kemudian jumlah masjid di Indonesia sebanyak 863.000 ini data dari Kementrian Agama 2011. Bahkan menurut Lembaga Ta’mir NU jumlahnya ada 1.070.000 masjid se Indonesia.

Namun dari jumlah yang besar tersebut, setelah diteliti ternyata yang berfungsi sebagaimana masjid sebagaimana yang dilaporkan oleh Direktur Pemberdayaan Zakat Bpk DR Rohadi Abdul Fattah, ketika meluncurkan gerakan maghrib mengaji bersama, ternyata hanya 10,1% yang berfungsi sebagaimana masjid dan kalau diteliti lagi, yang 10,1% ini pun yang meramaikan adalah orang-orang yang usianya sudah ashar menjelang maghrib.

Dengan kondisi ini, bagaimana mungkin membangun peradaban yang lebih beradab diatas pilar ilmu yang kokoh dan otoritas keulamaan yang mengakar kuat. Bagaimana mungkin pula, muncul pemimpin-pemimpin yang memiliki visi jihad dan beroreontasi hidup ke akhiratan. Karena umat sudah jauh dari masjid bahkan jauh dari Qur’an. Kalau kita lihat, proses demokrasi yang ada di Indonesia ini sejujurnya sudah sangat jauh dari semangat UUD 1945 dan falsafah Pancasila. Lihat saja, dalam setiap proses demokrasi, yang menang PEMILU dia menang, karena dia tenar atau terkenal walaupun cacat moral. Dia menang karena dia kaya walaupun sebenarnya seorang koruptor. Dan lebih menjijikkan lagi dia menang dalam PEMILU walaupun menangnya itu dengan cara yang culas.

Kalau arah cara pemilihan pemimpin seperti ini, sungguh sangat jauh dari cita-cita para pendiri bangsa ini. Dan cara yang terbaik adalah kembali ke masjid. Karena di masjidlah peradaban dimulai dan dibangun.

Sebagai contoh inspiratifnya adalah Usamah bin Zaid r.a yang dalam usia 17 tahun sudah ditunjuk dan dipilih Nabi menjadi panglima perang memimpin ribuan pasukan.  Beliau dididik dan besar di masjid. Begitu juga Thariq bin Ziyad, Tuanku Imam Bonjol, sampai Pengeran Diponegoro, mereka adalah orang-orang yang besar dan dididik di masjid.

Sebagaimana di Padang Sumatera Barat, ketika adat syara’ basandi. Syara basandi  bi kitabullah dan nagari dibudayakan, disana lahir banyak ulama dan pahlawan negeri. Hal ini karena orang yang terdidik di masjid insya Allah, Allah akan tanamkan rasa bagaimanaislam ini didakwahkan dan syariat ini ditegakkan. Dan tentu muaranya adalah rahmatan lil alamiin…

Sayangnya banyak muslim, dia shalat, puasa, zakat, haji, bahkan umroh berkali-kali, di dalam hatinya tidak ada misi bagaimana islam didakwahkan. Begitu juga banyak tokoh islam, dia kaya, kuat, terkenal, mempunyai jabatan, bahkan dia menjabat pun konstituennya adalah orang islam. Tetapi di dalam dirinya tidak ada visi bagaimana syariat islam ditegakkan. Rasulullah Saw tidak ajarkan ini, dan islam tidak akan berkembang dengan orang-orang semacam ini. Sebenarnya mereka hanyalah partisipan islam.

Banyak ormas islam, mereka sangat bagus dalam visi dan misi, tetapi payah dalam strategi organisasi, mamajemen, dan leadership. Ini kelemahan umum ormas islam. Sebagaimana kata seorang mujahid, “mudah membangun rumah tetapi sangat sulit membangun rumah tangga, mudah membangun organisasi tetapi sangat sulit membangun tim.”  Dan solusi semua itu adalah dating ke masjid. Karena disana sebuah tata aturan sosial diajarkan.

Peran Jamaah Haji terhadap Kemerdekaan sangat besar
Kemerdekaan Republik Indonesia tidak terlepas dari kerja keras dari jamaah haji Indonesia (para hujaj). Entah beliau sengaja atau tidak yang jelas dengan melihat dunia luar, cara pandang mereka berubah. Dan dari perubahan itulah terbangun visi jihad dan hidup berorientasi keakhiratan yang muaranya adalah bagaimana kita terlepas dari penjajahan.

Kuota jamaah haji Indonesia yang demikian besar. Bahkan terbesar di dunia, bukan gambaran dari kekuatan islam, karena sesungguhnya kekuatan islam adalah al ‘amal al islam al jama’i. inilah sebenarnya kekuatan islam yang beramal dengan berjamaah.

Dalam konteks kekuasaan, menurut theologinya, kekuasaan itu harus direbut, bukan diminta atau ditunggu. Apalagi kalau kekuasaan itu berada di tangan si dholim. Sebagaimana yang dilakukan para pandir. Dan ingat, yang bakal berkuasa adalah yang ditolong  olehAllah bukan yang menang kontes. Dalam konteks inilah, jamaah haji Indonesia, yang seharusnya menjadi contoh terdepan sebagai pelaku perubahan, sebagaimana salah satu dari tujuan berhaji adalah bagaimana menebarkan kebaikan seluas-luasnya.

Sayangnya para hujaj itu mendatangi ka’bah yang mempunyai nama lain “albaitul ‘atiq,” rumah perubahan, mereka sudah di depan pintu ka’bah, tetapi tidak bertemu dengan tuan rumahnya.

Sebagian besar agendanya bukan karena Allah tetapi bisnis dan yang lainnya. Doanya pun ingin digoalkan bisnisnya dan bukan ingin mencapai derajat takwa. Padahal sudah jelas kita disuruh berbekal untuk berhaji, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Jika demikian ridha Allah akan sangat dekat dan bukan sebaliknya.

Saya tidak menyalahkan siapa-siapa tetapi ini pekerjaan rumah kita untuk menjadi lebih baik. Maka dari masjid saya terus menyuarakan untuk kebaikan diri saya sendiri maupun umat islam. Peran masjid sangat besar dalam merealisasikan cita-cita tadi. Karena masjid adalah rumahnya orang-orang yang bertakwa,  bahkan Allah menjaminkan diri-Nya, “barangsiapa yang menjadikan masjid sebagai rumahnya.”

Hidup ini seperti menggerot sebuah pensil.  Tentu saja dengan melakukannya bertujuan agar tulisan menjadi indah. Gerotlah pensil Anda sampai habis batangnya sehingga yang tersisa adalah tulisan yang indah.

Kembali tentang masjid dan saya perlu memohon maaf kepada semuanya karena semua hal selalu saya kaitkan dengan masjid. Hal ini tentu saja saya secara pribadi dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw bahwa masjid harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dan gerakan ini harus dilakukan secara besar-besaran dan masiv. Karenanya saya sebagai ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) berpesan agar setiap masjid bukan hanya fisik sarana dan prasarana yang diptimalkan tetapi pengurus-pengurusnya juga sangat perlu ditingkatan kemampuan dalam manajemen dan keilmuannya.

Tentang DPD
Mohon ini disimak untuk saudara-saudara saya yang beragama islam. Ini sangat penting karena keterwakilan kita sebagai muslim dipertaruhkan disana. Karena tidak ada keadilan tanpa keterwakilan.

Sebagian orang marah dan benci itu sering disebabkan karena tidak paham dan tidak tahu. Dengan adanya keterwakilan kita di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) maka suara yang benar akan terdengar oleh semua orang. Sehingga informasinya tidak bias dan kemana-mana. Kalau toh kita sekarang memperjuangkan untuk memenangkan seorang tokoh yang telah kita sepakati (Drs. H. Masrur Makmur, M.Pdi) untuk menjadi wakil kita di DPD Bali, sesunguhnya bukan memperjuangkan dan memenangkan ansyikh Masrur Makmur pribadinya tetapi hakikatnya adalah memperjuangkan ‘izzah dan muru’ah umat islam.

Hidup yang bermakna, bersyukur sepanjang waktu
Saya setiap bertugas menjadi khotib, sebelum semuanya, saya berpesan kepada diri sendiri dan jamaah seperti ini : “Hadirin jamaah Jumat rahima kumullah, sungguh beruntung kita bisa mendatangi shalat Jum’at. Mengikuti jamuan Allah. Akan berlipat ganda sekaligus menjadi nikmat yang luar biasa apabila sepulang dari shalat Jum’at, ketaatan dan volume daya rasa taat kepada Allah terbawa ke dalam kehidupan nyata kita sehari-hari. Namun bila sebaliknya yang terjadi, maka gagallah ibadah jum’at ini.”

Pembaca, ciri ilmu yang berkah itu antara lain : (1) ketika ada berita surga dia bahagia dan sulit beristirahat karena rasa syukur yang tinggi. Seperti Rasulullah yang sudah ma’sum dan dijamin dengan surga dan segala bentuk kenimkatan dari Allah, beliau masih tetap shalat malam sampai kakinya bengkak. Hal ini ditanya oleh siti Aisyah. Lalu jawaban beliau, “Aisyah, memang benar, tetapi tidak bolehkah aku menjadi hamba yang  bersyukur? Subhanallah… semoga kita bisa melakukan hal yang demikian.

(2) ketika ada berita tentang neraka, ketakutannya bertambah-tambah. Sehingga dia selalu memohon ampun kepada Allah dan sulit tidur. Jadi sulit tidur bukan karena mikir hutang tetapi karena takut kepada Allah Swt.

Suhaib bin Sinan Ar Rummy r.a yang menadi asbab turunnya turunnya Qs Al Baqarah : 207 untuk dicontoh umat islam. Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”

Pesan saya untuk umat islam seluruh dunia, “Jika Anda ingin hidup mulia di dunia dan bahagia dunia akhirat, maka jadikan masjid sebagai rumah Anda.”

Semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi diri saya khususnya dan Pembaca pada umumnya. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabaraakuh.

@@@@@@@

KH Abdullah Ihsan : Bukan yang digoreng tetapi penggorengannya (Dari buku Menguak Kehidupan Islam di Bali / MKIB)



Islam di Bali
Subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illallah, Allahu akbar.. tahun 1999 saya masuk Bali untuk ditugasi megang Hidayatullah. Semoga semuanya berjalan sesuai dengan harapan semua pihak. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari cita-cita saya yang mulai saya perjuangkan sejak 1987 dengan bergabung di Hidayatullah Surabaya. Tujuannya minimal berusaha untuk bisa mengakomodasi potensi pemuda pemudi islam.
Bali sungguh luar biasa. Di Bali kesibukan da’wah jauh lebih besar daripada di tempat lain. Hal ini bukan karena muslim di Bali minoritas, bukan melulu itu saja. Muslim di Bali sangat “agresif” yang sangat positif. Bukan agresif menyerang atau ingin membunuhi orang-orang kafir. Naudzubillah sama sekali tidak seperti itu. Semangat orang islam di Bali untuk terus belajar sangat tinggi.
Keberislaman kita di Bali dan di luar Bali sangat jauh di negeri ini. Ketika di Jawa atau di tanah kelahiran Pembaca mungkin akan biasa-biasa saja atau cenderung malas, tetapi di Bali, sungguh luar biasa. Orang yang biasanya tidak shalat di masjid, saat di Bali shalatnya di masjid. Orang yang saat di kampung halamannya jauh dengan islam, saat di Bali menjadi rajin bahkan menjadi aktivis. Insya Allah Bali adalah salah satu sumber hidayah Allah Swt.
Rejeki anak sudah dijamin Allah
Saya ditanya oleh tim redaksi buku ini, mengapa kok anak saya banyak. Lebih dari itu sebagian besar anak saya yang perempuan sudah saya nikahkan saat masih di bangku kuliah. Sehingga fakta ini sempat membuat puyeng mereka (tim redaksi, red).
Yang jelas setiap jiwa, setiap yang lahir sudah dijamin rejekinya oleh Allah Swt. Dan saya memang benar-benar KB. KB saya adalah Keluarga Besar. Saya punya 10 anak dan tiga orang perempuannya sudah saya nikahkan sejak kuliah. Alasannya adalah agar yang menjaga mereka di jalan dan di kampus adalah suaminya. Selain terhindar dari dosa, insya Allah mereka bisa saling mendukung untuk mencapai cita-citanya. Dan Alhamdulillah hasilnya juga demikian..
Rejeki sudah diatur oleh Allah. Setiap jiwa sudah dijamin rejekinya oleh Allah. Tinggal kita saja apakah yakin dengan janji Allah atau tidak. Semakin seseorang yakin pada sesuatu, maka sesuatu itu akan bekerja untuknya. Apalagi Allah. Saat kita yakin dengan segala sesuatu tentang-Nya, maka dia akan bekerja untuk kita.
Perluasan lahan dengan pinjaman bank
Hidayatullah Bali yang sebelum Timor Timur memisahkan diri, wilayah kami sampai disana. Dan luar biasanya Bali, dengan luas tanah yang dimiliki Hdayatullah periode Ustadz Ahmad Umar tahun 1994 sd 2000 masih 450 M2, sekarang sudah 4.000 M2 lebih. Insya Allah tahun depan (2014,red)  akan membuka cabang di Jembrana dengan lahan seluar 10 kektar. Itu kampus yang akan mencoba untuk memberitahu umat tentang contoh peradaban islam. Ini sedang mencari meskipun tidak punya uang, kami yakin bisa. Insya Allah mohon doanya, karena tanpa dukungan semua pihak, tidak akan bisa jalan program kami.
Anda bertanya-tanya kan, bagaimana kami mendapatkannya? Bukan dari sumbangan, hibah atau sejenisnya, semuanya kami dapatkan dengan swadaya. Ya sudah barang tentu semuanya atas izin dari Allah Swt yang Maha Memberi.
Kami mendapatkan penambahan lahan dan bangunan bekerjasama dengan Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Bank Syariah Mandiri (BSM). Ya, kami mencicil setiap bulan. Dan ternyata sebentar lagi semuanya sudah akan lunas dalam setahun lebih ini.
Tidak setuju dengan cara kami?  Membangun pesantren kok pakai pinjam bank? Wallahu a’lam, kami meyakini bahwa perbedaan antara bank syariah dengan konvensional itu pada akadnya, perjanjiannya.  Jadi bisa jadi kami dalam bahasa umum dianggap membayar bunga yang diidentikkan dengan rentenir, tetapi tidak, kami membayar bagi hasil. Sebenarnya bukan masalah bunga atau bagi hasilnya, bukan nominalnya, tetapi lebih kepada proses, sistem dan mengolahnya menggunakan cara apa. Itu saja. Insya Allah baik. Buktinya MUI dan pusat tidak menyalahkan cara kami ini, mereka setuju dengan cara kami.
Jadi sekali lagi orientasinya bukan pada murahnya, tetapi barokahnya. Bukan yang digoreng, tetapi pengorengannya itu lho..
Pembaca bertanya lagi, dari mana uang untuk mengangsur? Jujur kami membayar ansuran bank tadi dari beberapa sumber. Antara lain uang SPP, uang gedung, beberapa donator dan pengalian umum. Syukurlah Allah terus memudahkan kami. Semoga ini bisa seterusnya dan Pembaca pun mendapatkan kemudahan yang lebih untuk urusan mendekatkan diri kepada Allah dan beribadah kepada-Nya. Amin.
Tentang kegiatan Pesantren Alhidayah
Pesantren kami sekarang mendidik 800-an santri dari TK sampai Madrasah Aliyah (MA). Diantara mereka ada yang mukim (tinggal di pesantren) 70 orang. Sebagian besar dari MA dan sedikit yang dari MTs (sederajat dengan SMP). 
Disini bukan sekolah penghafal Qur’an  (hafidh) tetapi kami mewajibkan santri untuk hafal Qur’an. Setidaknya syarat bisa lulus dari sini kalau SD harus hafal Juz Amma. Untuk lulus MTS minimum harus hafal 2 juz dan MA minimum 3 juz. Dan kabar baiknya, dengan target minimum seperti itu ternyata anak-anak hampir semuanya menghafal jauh lebih banyak daripada target. Bahkan ada yang hafal 30 juz, Alhamdulillah.
Ohya, untuk santri yang di tingkat MA target kami atau orientasi kami adalah sebagai kader. Karena sebelum mereka lulus, sudah banyak perguruan tinggi yang sudah mengantri ingin memberikan beasiswa. yang akan memberi beasiswa itu antara lain  STI Syariah…., IAIN Sunan Ampel, IAIN yogyakarta Dll
Saya pun sebenarnya punya cita-cita pribadi untuk diri dan keluarga saya. (1) Semoga anak-anak, maksudnya bukan saja anak kandung saya tetapi juga semua santri, bisa menjadi mujahid da’wah. Profesi boleh menjadi macem-macem, tetapi harus berda’wah di bidangnya. Minimal da’wah bil hal, selanjutnya bi lisan dan semua cara ditempuh untuk da’wah. (2) Saya juga mendambakan semua alumnus atau yang masih belajar disini dan muslim pada umumnya professional semuanya. Kita membangun peradaban pada seluruh unsur kebutuhan manusia. Ini cita-cita besar kita. Jadi semua kebutuhan umat bisa dicukupi dengan ini. (3) Selanjutnya tentu saja tegaknya kalimah Allah. Bom bukan cara kita, sekali lagi naudzubillah untuk cara-cara kekerasan seperti itu. Kta menggunakan cara Rasulullah Saw yang damai dan santun.
Statemen tokoh yang menyulitkan
Masih terlalu pahit terasa, saat seorang tokoh nasional mambuat statemen bahwa agama Bu Megawati tidak jelas saja, pesantren kami hampir berhasil dibakar massa. Semoga muslim baik dari kalangan atas sampai bawah semakin paham akan maksud dari kalimat “rahmatan lil alamin” islam harus bermanfaat dan menjadi rahmat. Datangnya islam harus membawa kebahagiaan dan bukan bencana.
Salah satu peran kami di luar kan mendidik anak-anak baik secara formal maupun non formal. Kita juga sering mengangkat program-program sosial untuk kedamaian dan kerukunan. Dan tentu saja kerja bakti sangat sering kita lakukan di dalam masyarakat. Jadi saat Mas Muslih menanyakan kepada saya tentang bom Bali, saya jawab “no comment” saya tidak paham dengan pola pikir pelakunya.
Adapun bila ada desas desus bahwa muslim di Bali sedang melakukan islamisasi, itu tidak ada. Yang ada hanya da’wah. Islam adalah agama da’wah, tidak ada paksaan dan kalau ada yang benar-benar melakukan islamisasi itu sudah melanggar hak. Orang mau islam atau tidak itu urusan Allah. Kalau Allah tidak memberi hidayah, apapun yang dilakukan orang tak akan berhasil. Jadi terhadap semua hal yang terjadi dan terpaan isu, triknya dengan bersabar. Ya pasti bisa karena orientasi kami da’wah dan bukan profit. Kalau mau dihitung secara profit ya jelas gak nyucuk (tidak masuk).
Untuk muslim di Bali
Pesan saya untuk pembaca buku ini, utamanya yang muslim ya? Ada beberapa ini :
1.      Mohon orang islam jangan merasa  superior. Rasulullah mencontohkan semuanya dilakukan dengan cara damai dan menggunaka kedekatan pada Allah Swt.
2.      Kita harus akomodatif terhadap lingkungan. Dan sudah barang tentu tidak boleh larut utamanya dalam hal ibadah. Dalam hal sosial kemasyarakatan boleh saja dan memang harus mau bergaul. Jangan merasa eksklusif.
3.      Terjemahan rahmatan lil alamin itu “harish alaikum ma ‘anittum” peradaban yang tidak membuat orang sakit hati. Dan  ketiganya insya Allah akan diwujudkan di kampus percontohan peradaban islam. Rasulullah berhijrah itulah yang akan menjadi visi kita.
Saya juga punya harapan untuk saya dan umat islam. Kuntum khoira umatin, kalian adalah umat terbaik yang harus konsisten pada nilai-nilai islam. Kejujuran, konsisitensi, tidak munafik, istiqamah, dan akhlaqul karimah yang lain. Mengapa ada yang korupsi? Ya karena kekurangan yang ini. Memang memalukan yang korupsi di negeri ini justru sebagian besar orang islam. Betul kan? Makanya harus kembali konsisten pada nilai islam tadi.
Dengan sikap seperti di atas, itu sudah menjaga nama dan citra islam. Orang tidak terganggu dan siapapun yang melihat akan terpesona dengan sikap dan perilaku orang islam. Isyhad bi ana muslimuun, saksikan saya ini muslim dan saya akan berperilaku seperti Rasulullah Saw yang sangat santun dan damai. Harusnya demikian. Kalau ngebom dan membuat kekacauan itu menurut saya bukan muslim. Itu oknum saja. Atau ada yang ditumpangi.
Dan saya punya motto yang ingin saya tularkan kepada pembaca buku ini, “Nyatakan tiada ilah kecuali Allah pasti menang. Menang dunia akhirat. Caranya dengan sabar dan syukur.” Terima kasih dan mohon maaf bila ada yang salah. Wassalam..
@@@@@@@

Drs H.A. Madjid Damanhuri, SH : Ingin Hidup Berkah, Belajar Qur’an (Dari buku Menguak Kehidupan Islam di Bali / MKIB)



Islam ya’lu wala yu’la alaihi
Pembaca, ini tanggal lahir saya, 11-11  pada 74 tahun yang lalu (tahun 2013, red). Coba dihitung sendiri. Kata orang malah pada than 2011 lalu pas tanggl 11 bulan 11 tahun 2011 saya ini sumber uang. Ada ada saja manusia ini. Tetapi kalau tidak begitu namanya bukan manusia ya? Hehehe….

Saya perlu mengingatkan Pembaca sebelum bicara yang lain. Islam itu dimana-mana dihina, ada kalanya dihormati, tetapi apapun upaya makhluk, islam tetap tinggi. Al islamu ya’lu wala yu’la alaihi, islam itu tinggi dan tidak ada yang menandingi ketinggiannya. Jadi beruntunglah bagi yang hidup di dunia ini menjadi orang islam. Tetapi bukan karena keislamannya lalu menjadi sombong, jangan…  Islam itu rahmatan lil alamin, islam itu semua makhluk harus mendapat manfaat dengan kehadiran pemeluknya.

Non job karena dituduh korupsi
Kalau tentang saya, Alhamdulillah saya termasuk orang yang mengalami banyak onak dan duri dalam hidup ini. Sebelum tahun 1986 secara karier saya di kantor Departemen agama biasa-biasa saja. Ketika diterpa fitnah korupsi saya agak lumayan diping-pong. Saya dituduh korupsi karena baru 6 bulan di Mataram sudah punya mobil. Sementara pimpinan saya tidak punya mobil.

Lalu entah dari mana asal ceritanya, tiba-tiba saya dimutasi ke Ambon. Sebenarnya promosi karena saya diangkat menjadi KaDiklat Propinsi Maluku saat itu. Tetapi karena mikir anak dan sekolah mereka  akhirnya saya putuskan untuk tidak menjalani. Alhasil saya harus menerima risiko non job.
Tidak seberapa lama lalu saya ditawari menjadi hakim. Lalu saya bilang kepada yang nawari agar minta izin atasan saya saja. Dan karena saya tidak disukai, Alhamdulillah banget, saya diusir dengan disetujui permintaan itu.  Ternyata tidak semua yang tidak disenangi itu bernasib buruk. Buktinya saya malah diangkat menjadi hakim.
Tahu tidak Pembaca, tunjangan saya dengan kepala saya tadi jauh lebih besar saya. tunjangan hakim saat itu Rp 135.000, dan tunjangan kepala kantor saya hanya Rp 30.000,00. Bukan matre tetapi ini sekadar refreshing untuk sedikit kita jadikan bahan perenungan.
Menjadi da’i sejak usia muda
Kesenangan seseorang terkadang membawanya kepada rejekinya. Saya yang suka belajar berda’wah lalu mencoba menjadi da’i. Maka belajar dan terus belajar membuat daya harus berucap Alhamdulillah. Apapun bentuknya memang kita harus tetap bersyukur.
Alhamdulillah juga di Mataram umur 21 tahun saya sudah menjadi da’i. itu hoby saya menjadi da’i. Sehingga saat ini saja (September 2013,red) saya dimampukan Allah mengisi tidak kurang dari 70 sampai 100 pengajian dalam sebulan. Di Mataram pada usia 21 tahun itu saya sudah mengisi pengajian di penjara. Anda bisa bayangkan, bagaimana penjahatnya Lombok yang sakti-sakti. Tetapi sebagian besar mereka mencium tangan saya kalau selesai pengajian.
Riwayat sekolah saya agak aneh. Saya ini sudah S-2 lho, yaitu penambahan S-1 plus S-1. Yang satunya Drs dan satunya Sarjana Hukum. Di IKIP dulu saya hanya iseng saja, sedangkan di fakultas hukum saya terpaksa, lho…?? La iya, wong semua hakim harus SH, maka saya ngambil SH di Universitas Mahendradata Denpasar. Jadi saya sudah pindah ke Bali saat mengambil sekolah hukum.
Saya ini kadang dirasani jamaah katanya galak. Weleh weleh weleh… kalau saya galak kan tetap ada dalilnya. Saya sering guyonan sama ibu-ibu di pengajian tentang kegalakan saya ini. “Ibu suka suami yang keras apa yang lembek?,” tidak dijawab hanya pada ketawa saja. Jelas lebih suka yang berkarakter dan punya dasar hukum
Cita-cita pribadi
Dalam hidup ini setiap orang harus memiliki cita-cita pribadi, apapun bentuknya. Apalagi yang berhubungan dengan Tuhan kita, kita harus memilikinya. Misalnya mau naik haji tahun berapa, mau membangun pesantren, atau yang sederhana saja, misalnya mau membantu panitia pembangunan mushala.

Sedangkan saya sedikitnya punya cita-cita ini :
1.      Sedih rasanya selama ini saya melihat sebagian umat islam hanya suka membaca Al Qur’an. Tidak lebih dari itu. Bahkan tidak kurang yang menyentuh saja beratnya minta ampun. Padahal dia itu panduan hidup kita. Bukan hanya dibaca saja tetapi diupayakan melakukan kajian dan analisa. Inilah seharusnya yang menjadi mimpi semua umat, mau dan ingin terus belajar Al Qur’an.

2.      Saat belajar Qur’anter kadang tarasa sakit. Pikiran dibanting-banting rasanya. Namun itulah proses pembersihan diri kita. Kalau kita terus melakukannya, insya Allah hidup kita sudah islami.

3.      Dengan membaca Qur’an banyak malaikat datang, pikiran menjadi tenang dan Al Qur’an itu pasti tanpa ada keraguan di dalamnya. Mengikuti dan mencintai serta memperlajarinya insya Allah akan membuat kita menuju kepastian. Dalam hal ini adalah ketenangan itu tadi.

Ingin hidup berkah, belajar Qur’an
Ingat, jangan menafsirkan, tetapi berusaha memahami. Kalau terjemah itu mengetahui artinya, sedangkan menafsirkan itu mengurai dan menjelaskan. Mentadaburi dan bukan menafsirkan.

Kalau bahasa Jawa saja susah dipahami, apalagi bahasa langit. Coba Pembaca yang asli Jawa cari bahasa Indonesianya “pangling” apa hayoo… mikir kan?  Dan Qur’an itu bukan bahasa Arab tetapi bahasa Quraisy. Makanya yang paling mengerti ya orang Quraisy waktu itu. Jadi kita bukan penafsir tetapi berusaha memahami.

Lalu bagaimana dengan para hafidh, penghafal Al Qur’an? Ketahuilah Pambaca bahwa yang mudah menghafal Qur’an itu orang yang belum bisa membaca. Hal itu disebabkan oleh otak yang masih bersih. Kalau ticak percaya coba bandingkan hafala anak TK yang belum bisa membaca dengan sampeyan yang sudah tua-tua, pasti cepetan anak TK. Jadi sekali lagi bukan menghafal yang penting tetapi memahami lebih penting. Bahkan kalau ada pengajia, sama-sama pengajian, yang mengkaji Qur’an dengan pengajian biasa seperti langit dan bumi.

Qur’an itu mudah, simple, gampang dan barokah. Percaya atau tidak, jika umat islam total mempelajari Qur’an, maka akan jauh lebih hebat kinerjanya daripada orang Kristen. Tetapi sekarang kan belum? Ya itu tadi sebabnya belum Qur’an yang dipelajari. Padahal bagi siapa saja yang mau mempelajari Qur’an, hidupnya pasti berkah.

Taat beribadah membuat kita sehat
Ibadah itu membuat kita sehat lho. Saya sering ditegor jamaah saya, “lho, duduk selama dua jam kok tiba-tiba berdiri Ustadz, apa tidak kesemutan?,” demikian saya sering ditanya.

Saya ini menggunakan shalat yang dimulai dari wudhu sampai amalan habis shalat, saya jadikan sebagai obat. Saya banyak belajar sehat dari shalat. Kalau mau tahu rahasianya, sialakan saja ikut pengajian saya hehehehe… saya pun mengingatkan jamaah bahwa bersin itu juga sehat, karena membuang penyakit. Makanya adabnya harus ditutup biar penyakit itu tidak menyebar ke orang lain.

Enak rasanya hidup yang dipenuhi dengan adab Nabi. Nikmat rasanya berobat dan menjadi sehat dengan mengamalkan semua perintah Allah. Baik perintah wajib maupun sunah, semuanya membawa kita bukan saja pada pencerahan jiwa tetapi juga kesehatan jasmani.

Cerita unik saya ditangkap PKI
Mohon maaf saya harus mengangkat cerita ini disini. Ada sedikit maksud yang ingin saya sampaikan. Umur 25 tahun saya pernah ditahan oleh Korem. Waktu itu ada orang Korem yang bernama Pak Sugeng Wijaya yang ternyata malah menyelamatkan saya. ceritanya begini. Saya kan aktivis Muhamadiyah, saat pecah G30-S PKI itu kok tidak ada yang mau bergerak, maka saya bersama Abdul Kadir dan Geger Yanto teman saya, membuat famlet dan menempel di tempat-tempat strategis. Di pamlet itu saya tulis : (1) Bubarkan PKI (2) Gantung DN Aidit (3) Bubarkan Baperki (Bendahara PKI).

Saya menempel famlet itu jam 1 malam. Namun sialnya kami tertangkap basah oleh Garnisun Mataram. Oh iya, saat itu kejadiannya di Mataram, sampai lupa member tahu. Saat ditangkap saya ditanya, “apa kamu punya persatuan apa tidak?.” Belum beberapa lama lalu kami bertiga diambil polisi.

Saat ditanya-tanya, M.Mahrim salah satu teman kami, menjawabnya susah, maka ditempeleng sama polisi itu sampai kacamatanya lepas.  Saat melihatnya ngeri rasanya. Ternyata setengah menunggu dengan persiapan yang ketat, saya tidak dapat jatah tempeleng… Padahal saya sedang berfikir bagaimana rasanya ditempeleng itu. Alhamdulillah… ternyata ditolong Allah.

Menjadi pemain sandiwara sebagai Abu Jahal
Kalau ditanya tentang istri, saya bertemunya karena drum band. Dia pemain drum band biasa di pemuda Muhamadiyah. Saya pun jelek-jelek begini pemain sandiwara lho… tetapi karena wajah saya yang kayak gini atau suara saya yang keras sehingga sering dijadikan sebagai pemeran antagonis. Saya sering jadi Abu Jahal. Satiap acara didapuk jadi Abu Jahal. Kami main sandiwara sampai Sumbawa lho…

Awalnya gengsi juga dipilih sebagai pemeran seperti itu. Masa, disuruh menjadi penjahat dan orang yang tidak mendapatkan hidayah Allah. Bukan hanya itu, dia juga menghambat dan menghalangi perjuangan Rasulullah Saw.

Yah, ternyata dari kegiatan-kegiatan itulah justru saya mendapatkan banyak hidayah dari Allah Swt. Saya banyak merenung dan berhasrat ingin semakin banyak mempelajari islam. Utamanya Al Qur’an dan segala seluk beluknya. Buktinya sekarang saya bisa berbicara dan memberikan pemahaman kepada jamaah karena ilmu-ilmu itu.

Hubungan umat islam
Saya berharap muslim utamanya yang ada di Bali. Atau yang ada dimana sajalah, harus konsekuen memegang teguh Al Qur’an. Kalau sudah bisa memegang teguh Al Qur’an maka akan dilindungi oleh Allah. Orang kafir akan diberi rasa takut. Jadi jangan mencla mencle (Qs 2 : 102)

Qur’an itu bisa ngomong lho, jangan main-main. Hanya sayangnya tentang hal ini yang nulis kok malah orang Barat. Ilmu-ilmu Qur’an banyak diamalkan oleh orang Barat, dan inilah faktanya. Lalu kemana muslimnya? Insya Allah sedang belajar ni hehehe…

Mau saya, hubungan islam dan non islam itu yang harmonis. Waktu itu Brigjen Nyoman Sweta Ketua PAN Bali membedah buku Hatta Rajasa. Hatta ini pengin jadi presiden tetapi malu. Malu untuk berbuat baik yang dilihat orang, subhanallah… ini harus ditiru dan jangan sebaliknya.

Mudah-mudahan islam dan hindu bersatu. Bersatu sebagai bangsa dan islam yang rahmatan lil alamin benar-benar terealisasi. Buktinya saat Ramadhan, islam itu memberi rasa senang pada orang Bali. “Iya Ustadz, jam 3 dagangan saya sudah habis dibeli orang islam,” itu salah satu ungkapan mereka

Ni pesan terakhir saya, “makanan surga itu yang  banyak buah-buahan, jadi seharusnya makanan pokok kita kalau mau sehat itu ya buah. Sedangkan nasi seharusnya jadi suplemen saja. Buktinya, monyet yang suka makan buah itu tidak pernah stress hehehe.”

Sekali lagi, Qur’an adalah kitab suci kita dan luar biasanya, dia merupakan kitab suci yang paling banyak dibaca orang di dunia ini. Ayo, jangan lepaskan Qur’an dan jangan hanya dipajang saja. Semoga bermanfaat. Amin.

@@@@@@@