Rabu, 19 Februari 2014
cakmoes solution
0 comment
Maret insya Allah beredar, harga 40ribu bisa pesan di 081339819097 di Bali dapat diskon 25%
Rabu, 12 Februari 2014
satu dibalas 700
1.
Sahabat, Qs Al Baqarah 261 menjamin bahwa jika infaq satu
akan dibalas 700. Jadi kalau kita infaq 100.000 insya Allah cepat ata lambat
Allah akan menggantinya dengan 70.000.000,-. Yayasan Syifaul Ummah yang
mendidik dan mengelola anak yatim dan manula telah beroperasi. Bila berkenan
mengadakan perniagaan dengan Allah, silakan bergabung menjadi pendukung program
“dengan infaq dan sedekah sema bahagia.”
Rek BRI Syifaul Ummah 38700101 5204 536. Selamat menjadi 24 karat.
(11-9-2012)
Senin, 10 Februari 2014
Senin, 09 Desember 2013
H. Masrur Makmur, M.Pdi : Insya Allah 40% penghasilan saya untuk umat
(2)
H. Masrur Makmur, M.Pdi
:
Insya Allah 40% penghasilan saya untuk umat
Orang sering berfikir bahwa orang-orang sukses itu enak sekali hidupnya. Mereka pun lalu berfikir alangkah enaknya menjadi orang sukses yang kayaraya, mati masuk surga. Dari pikiran itu lantas berandai-andai menjadi orang kaya.
Dalam islam orang yang panjang angan-angan seperti itu
disebut dengan “thulul amal”. Kita
mesti cermat dalam membedakan antara “thulul
‘amal” dan thulul amal tadi. Kalau thulul ‘amal yang menggunakan huruf ain
berarti panjang amalnya. Seseorang yang sudah meninggal pun bila amalnya baik
dan mengesankan bisa panjang dan dikenang orang sepanjang masa. Sedangkan
thulul amal yang panjang angan-angan, Pembaca bisa menerka sendiri, karena
biasanya orang seperti itu malah cenderung malas untuk beraksi. So, sebaiknya
kita tidak berpanjang angan-angan tetapi harus banyak beraksi setelah
direncanakan.
Saya sopir H. Latunrung
Kalau ada yang pernah berdinas atau hidup di Makasar, mungkin
tahu dengan nama H.Latunrung. Setidaknya Mas Muslih yang penulis buku dan kerja
di Kantor Pos itu mengenalnya. Kepada beliaulah, H.Latunrung saya menjadi
sopir. Saya mengabdi kepadanya.
Kalau boleh sombong, mungkin saya bisa dikatakan sebagai
bukan sopir biasa. Kalau sopir pribadi kan standby
setiap saat sudah lumrah dan jamak dilakukan, sedangkan saya ada tugas tambahan
yang menurut saya keren. Saya pun menjalaninya tanpa ada pikiran apa-apa,
bagaikan air mengalir yang pasti menuju ke dataran yang lebih rendah.
Belakangan saja lalu saya berfikir tentang status sebagai
sopir tadi, “lebih baik menjadi logic of
discovery daripada logic perfection”
Secara sangat singkat saya terjemahkan kalimat tadi dengan syukur atas
semua yang ada.
Oh iya, sampai lupa menjelaskan tentang bukan sopir biasa
yang serba guna tadi. Sebagai sopir, setelah selesai antar ini dan itu, setiap
hari saya punya tugas mengambil makanan untuk sekitar 60 orang karyawan di
kantor. Saya ambil dari rumah dan tentu saja bukan sekedar mengambil, tetapi
juga membantu yang masak menyiapkan piring dan perlengkapan lainnya.
Bagaimana setelah semua selesai makan? Saya pun dengan senang
hati meringkasnya, mencuci piring-piring dan gelas kotor itu, dan
mengembalikannya ke rumah bos. Memang saya adalah keponakan dari bos saya yang
terkenal itu, tetapi saya kan tidak boleh semena-mena. Justru karena orang dekat
itulah, maka saya harus memberikan contoh yang baik kepada karyawan lainnya.
Ternyata sikap baik saya tadi bukan saja menguntungkan saya
di satu sisi, dalam hal lain meskipun mungkin karena memang saya satu-satunya
yang lancar bahasa Inggris, tetap saja adalah sesuatu yang harus saya syukuri.
Dengan berbekal ijazah S-1 Bahasa Inggris jurusan Sastra Inggris, saya pun lalu
diangkat menjadi manajer money Changer
yang dibuka di Bali. Tentu dengan senang hati saya berangkat. Bayangkan, dari
posisi sebagai sopir lalu diangkat menjadi orang kepercayaan bos di luar pulau.
Gaji Rp 65 ribu dan kost saja sudah Rp 75 ribu di Bali
Tanggal
28 Januari 1990 saya dengan gagahnya diutus oleh H. Latunrung Paman saya untuk
membuka usaha valas atau money changer di Bali. Ini perpanjangan tangan atau
cabang milik H. Latunrung yang ada di Bali.
Tanpa
berfikir negatif tentang paman saya yang memang baik hati, saya pun menjalani
hidup di Bali dengan lumayan ekstra keras. Bayangkan, gaji saya saat itu Rp
65.000,00 sedangkan kost sudah Rp 75.000,00.
Logika mana yang bisa masuk untuk kehidupan seperti itu. Dalam pikiran
saya hanya satu tidak menyalahkan paman, yaitu bahwa usaha ini belum berjalan
dengan baik dan hasilnya belum maksimal.
Kalau usah sudah maju pasti penghasilan saya juga akan meningkat. Dengan
berfikir demikian, hati jadi tenang
menerima semuanya. Saya pun bertahan sebagai manajer di perusahaan money
changer itu selama 3 (tiga) tahun.
Pembaca
pasti ngebayanginnya gimana gitu merantau dengan penghasilan yang sangat minim.
Mohon maaf Om H. Latunrung, bukan bermaksud yang aneh-aneh tulisan ini saya
buat, tetapi ada tujuannya, yaitu memberi motivasi saya dan juga Pembaca untuk
terus berkarya di saat lapang maupun sempit, tetap memberi baik dalam keadaan
lapang maupun sempit.
Saya
pun ingat, betapa setiap melaksanakan urusan bank dari Legian ke Bank
Indonesia, bisa saya tempuh kira-kira dua sampai tiga jam. Jadi berangkat pagi
dan sampai di bank menjelang siang. Keren kan? Mengapa bisa demikian? Karena
efisiensi yang kami terapkan, kendaraan bermotor belum kami miliki dan
kemana-mana masih naik angkot.
Tetapi
mungkin saya tidak akan menjadi seperti sekarang ini yang kata orang hidup saya
sudah berkecukupan kalau saya mudah menyerah. Untuk mencukupi kebutuhan hidup
selama di Bali, ternyata ilmu bahasa Inggris saya bermanfaat. Menjadi guide free lance saya ambil sebagai pilihan saya mengisi waktu
kosong usai bekerja. Sebenarnya pola pikirnya bukan mengisi waktu luang, tetapi
memang untuk mencukupi kebutuhan dan kalau ada lebihnya, bisa menyenangkan
orang tua melalui weselpos. Rp 10.000,00 per hari bukankah lumayan bagi
seseorang dengan kondisi seperti saya tadi.
Bukan berkhianat, tetapi mengambil pilihan yang tepat
Saya
harus terus berfikir agar hidup saya bisa berubah. Kalau begini-begini terus
bakal bahaya nasib saya kelak. Maka diam-diam saya sering sharing dengan
teman-teman. Dan dari sana lalu saya semakin paham tentang bisnis yang sedang
saya tangani. Setelah dirasa cukup untuk berjuang sendiri maka saya putuskan
untuk mandiri. Anggaplah selama tiga tahun mengabdi di perusahaan paman,
etung-etung sebagai masa pendidikan dan pelatihan tentang segala seluk beluk
penukaran uang asing. Bisa juga dianggap magang.
Awalnya
sih tidak ingin aksi cerdas saya ini diketahui om saya, namun agar semuanya
berkah, maka saya laporkan saja bahwa saya nyambi.
Tetapi apa yang terjadi? Om H. Latunrung marah besar kepada saya dan memberikan
pertanyaan yang cukup sulit dijawab saat itu.
Mungkin beliau pun mikir tentang gaji saya yang minim itu sehingga marah
beliau, tegas beliau dilakukan dengan sangat bijak.
“Masrur,
kalau Masrur harus memilih, apakah akan terus ikut Latunrung atau mandiri
seperti yang selama ini secara diam-diam kau lakukan?,” sebenarnya kaget banget
sekaligus malu mendapati pertanyaan itu, rasanya hampir copot jantung ini.
Tetapi saya harus tetap tenang dalam menghadapi permasalahan apapun. Kata
orang, panik bisa merusak semuanya. So, dengan menarik nafas panjang untuk
hasil yang terbaik diantara yang buruk, saya jawab pertanyaan itu.
“Ya
om, sebelumnya saya mohon maaf atas segala kesalahan yang pernah saya lakukan.
Tidak ada maksud apa-apa dengan hubungan saya bersama Mas Suntoro, tetapi kalau
disuruh memilih, saya ingin mandiri. Sekali lagi mohon maaf atas keputusan ini.
Bukannya saya ingin berkhianat, apalagi mengkhianati paman sendiri, tetapi saya
ingin mengambil pilihan yang tepat dengan segala risikonya,” ternyata paman
setuju dengan jawaban saya. Karena sejak dulu dan sampai kapan pun insya Allah
hubungan kami sangat baik. Ibarat kata, apapun kondisinya, hubungan keluarga
dan hubungan personal harus tetap baik. Musuh satu terlalu banyak, namun teman
seribu masih sangat kurang. Dipandanginya saya lekat-lekat, lalu dipeluknya
seperti seorang ayah memeluk anak lelakinya. Subhanallah…
Teman saya pun memisahkan diri
Dengan
akad yang jelas di depan paman tadi,
lalu saya sebut bismillahi
rahmaani rahiim, saya mulai usaha
sendiri bersama Mas Suntoro. Tepatnya tanggal, 18 Juni 1993 saya mulai. Mungkin
ini rejeki Nurahmah anak pertama saya, sehingga tanggal pembukaannya tepat
dengan hari ulang tahunnya.
Bermodalkan
uang 26 juta dari hasil kerjasama itu Alhamdulillah sekarang kami sudah membuka
18 cabang. Mas Suntoro ini saat itu jadi manajer Keuangan Bali Dinasty Hotel
dengan bisnis yang sama.
Ketika
bisnis mulai jalan, hanya tiga bulan saja mas Suntoro bergabung dengan saya.
Beliau ingin memisahkan diri dan mendirikan usaha yang sama di Bali. Walhasil kelabakanlah saya karena harus
mengembalikan modal dari beliau. Namun dengan bertekad bahwa tidak ada masalah
yang tidak bisa diselesaikan, maka bismillah, saya berhasil membayar uang
beliau dan membayar kontrakan.
Allah
benar-benar Maha Pemurah sehingga ketegangan ini bisa terlepas dari saya dan
membuat saya semakin matang. Dengan ujian yang berupa masalah membuat kita
semakin dewasa, bukan sebaliknya menjadi lemah. Inilah hidup dan kita harus
memilih yang terbaik dengan militansi dan integritas yang tinggi. Insya Allah
semua akan terjadi seperti yang kita rencanakan.
Untuk anak, tidak mendengar suaranya
satu jam saja, sepi
Saya
ini kalau tidak mendengar suara anak saya, rasanya ada yang aneh. Sepi dan
hampa serta merta menyerang saya. Makanya setiap menjelang subuh saya
istiqamahkan menelpon anak saya yang ada di Jawa dua duanya. Membangunkan untuk
shalat tahajud sekaligus sampai subuh. Saya bukan SMS lho tetapi telepon. Ya
itu tadi, ingin selalu mendengar suara mereka.
Anak
adalah titipan Allah yang pasti harus saya pertanggung jawabkan pendidikan dan
segala macamnya. Anak adalah cermin bagi orang tua. Apapun yang terjadi pada
anak, maka orang tualah yang harus bertanggung jawab. Dan kalau ada apa-apa
dengan anak, pasti orang tuanya yang bermasalah.
Anak
bagi saya adalah investasi yang paling besar dalam hidup ini. Menikah tanpa
anak membuat banyak pasangan stres. Salah satu solusi yang diambil biasanya
mengangkat anak orang lain, memungut. Jika anak kita shaleh dan shalehah, maka
kita akan mendapatkan doa mereka. Kalau anak kita tidak mengenal agama,
jangankan mendoakan, megurus diri sendiri saja tidak bisa.
Itulah,
makanya sedemikian pentingnya posisi anak terhadap orang tua, saya serius dalam
mendidik mereka. Segala macam cara saya lakukan agar anak saya berhasil menjadi
seperti yang saya dambakan, yaitu menjadi anak shaleh dan shalehah yang
bertakwa kepada Allah Swt.
Saya mau dicalonin jadi DPD, asalkan enam ini
Saya
kemarin saat ada peluang untuk maju menjadi calon DPD, saya mau tetapi
mempunyai beberapa syarat yang tertuang dalam 6 program menuju DPD RI Dapil
Provinsi Bali. Keenam program tersebut adalah :
1. Mendorong perhatian yang lebih besar dari pemerintah
terhadap isu-isu penting di daerah Bali.
2. Selalu mendengar, melihat, dan merasakan denyut hati rakyat
Bali.
3. Membangun dan memajukan sektor pariwisata,
perdagangan, kerajinan, pertanian dan ketenagakerjaan.
4. Membangun Bali yang berdikari secara ekonomi,
berdaulat secara politik, dan berkepribadian yang berkebudayaan.
5. Memperjuangkan aspirasi rakyat di daerah Bali dan
mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan yang berkesinambungan
6. Memperjuangkan otonomi khusus (otsus) di Bali untuk
menyelamatkan budaya dan sistem pengairan subak.
Apa itu DPD?
Sekadar
meluruskan persepsi yang tekadang keliru tentang DPD, saya ingin sedikit
menjelaskannya. DPD dan DPR digambakan serupa dengan sisem perwakilan seperti
di Amerika Serikat yang terdiri dari senate
sebagai perwakilan Negara bagian dan house
of representatives sebagi perwakilan seluruh rakyat. Di Amerika Serikat,
kedua unsure perwakilan tersebut dinamakan Kongres (congress). Konggres ini berperan sebagai badan yang menjalankan
kekuasaan legislatif. Inilah yang disebut dengan system perwakilan menjadi dua
kamar (bicameral).
Sedangkan
fungsi dari DPD adalah :
1. Fungsi legislasi atau fungsi pengaturan (regelend function)
2. Fungsi pengawasan (control)
yaitu pengawasan pemerintahan (control of
executive), pegawasan pengeluaran (control
of expenditure), dan pengawasan pemungutan pajak (control of taxation)
3. Fungsi representasi (representation) yang meliputi tiga, yaitu representasi politik,
territorial dan fungsional.
Sedangkan
manfaat dari pembentukan DPD adalah keinginan untuk lebih mengakomodasi aspirasi daerah. selanjutnya memberi peran yang lebih
besar kepada daerah dalam proses pengambilan keputusan politik untuk hal-hal
terutama yang berkaitan langsung dengan kepentingan daerah. Keinginan tersebut
berangkat dari indikasi bahwa pengambilan keputusan yang bersifat sentralistik pada masa lalu ternyata
telah mengakibatkan ketimpangan dan mengebiri rasa keadilan. Bahkan hal
tersebut dapat mengancam keutuhan wilayah Negara dan persatuan nasional.
Yang akan diperjuangkan DPD
1. Bidang pertanian
Laju perkembangan pariwisata yang demikian pesat di
Bali justru membuat pertanian semakin terdesak dan terpinggirkan. Banyak lahan
sawah yang subur dicaplok untuk
dijadikan hotel, Vila atau bangunan. Selama sepuluh tahun (1987-1997) terjadi
penyusutan lahan. Dalam hal ini kasus yang menonjol ada di Kabupaten Jembrana
dan Tabanan. Dahulu sebagai daerah dengan sumber air melimpah, kini sudah
tergolong krisis air untuk irigasi.
2. Bidang Adat-Budaya
Masalah yang paling menonjol adalah kasus-kasus bernuansa
adat. Guru besar Fakultas Sastra UNUD Prof DR I Gde Parimartha, MA menilai
bahwa maraknya kasus-kasus bernuansa adat di Bali terjadi sejak adanya Peraturan
Daerah (Perda) Nomor : 3 tahun 2001. Perda tersebut perlu disempurnakan
karena hanya mengatur desa adat dan tidak menyebutkan adanya desa dinas.
Padahal antara desa adat dan desa dinas selama ini mengemban tugas
masing-masing
3. Bidang Hukum dan KAMTIBMAS
Tingginya angka kriminalitas masih menjadi masalah
serius di Bali, baik kejahatan jalanan maupun transnasional dan korporasi.
Persoalan tertib hukum masih dipersoalkan di Bali. Misalnya aturan tentang
syarat kepemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang mewajibkan warga pendatang memiliki
rumah atau tanah pribadi. Padahal Undang-Undang Kepandudukan tidak mensyaratkan
hal itu, dan lain-lain
4. Bidang Pariwisata
Pertumbuhan pariwisata Pulau Dewata dengan tingkat
kunjungan 2.573.118 pada November 2011 disinyalir hanya menggemukkan pada predator yang notabene bukan masyarakat
lokal Bali. Pemprov Bali harus menggenjot pariwisata Bali yang berdampak
positif terhadap masyarakat. Diantaranya dengan mengembangkan wisata spiritual,
wisata alam dan lainnya guna menekan pengaruh negatif yang ditimbulkan dari
pertumbuan pariwisata.
5. Bidang Kependudukan
Tingginya angka pengangguran dankemiskinan merupakan
aspek yang dapat menggoyahkan sendir-sendi kohesifitas
sosial. Demi tercapainya stabilitas sosial perlu ditetapkan tata kelola dan pelayanan
kependudukan, pendataan secara akurat dan implementasi kerjasama antar daerah
yang terkait dengan persoalan lalu lintas kependudukan.
6. Bidang sumber alam
Melimpahnya kekayaan alam Bali, baik yang sudah
dikelola maupun belum, menjadi daya tarik berbagai kepentingan. Praktik
Pengelolaan lingkungan yang serampangan
dan tidak berpihak pada msyarakat dan lingkungan hidup, jelas akan berdampak
buruk pada keberlangsungan Bali ke depan. Oleh karena itu perlu ada regulasi
yang tepat dan penindakan hukum yang tegas untuk melindungi lingkungan Bali.
7. Bidang politik
Budaya politik juga mengalami kemerosotan dengan
maraknya politik uang. Perkembangan lingkungan strtatejik juga berpengaruh
terhadap keutuhan NKRI. Hal ini diwarnai dengan munculnya gerakan-gerakan atau
setidaknya ancaman sparatisme di beberapa daerah. Hal yang merupakan dampak
negatif desentralisasi antara lain menguatnya primordialisme kedaerahan sebagai akibat penguatan sosial. Hal ini
disebabkan kewenangan yang sangat besar bagi daerah dan kepala daerah, sehingga
diantaranya memunculkan gejala pemilahan sosial serta cenderung melahirkan
nasionalisme sempit.
Beberapa Prestasi sebagai pendorong (trigger)
Bukan
bermaksud ingin pamer jabatan, tetapi siapa tahu ada yang berurusan dengan
kantor-kantor ini dan saya bisa bantu. Pasti ada manfaatnya. Ini beberapa
organisasi dan institusi yang saya ada disana :
1. PT Bali Maspintjinra Money Changer, saya sebagai
Direktur Utama
2. Yayasan Eduka Sejahtera Insan Cendekia Bumi Serpong
Damai (BSD) Pamulang, saya sebagai ketua.
3. Tomoza Corporation, Japan Bali, saya sebagai manajer.
4. Franchise RM Wong Solo Makassar, saya sebagai pemilik.
5. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Badung Bali,
saya sebagai ketua.
6. Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ), saya
sebagai wakil ketua.
7. Rukun Warga Musim (RWM) Masjid Al Hasanah Perum Canggu
Permai Kabupaten Badung Bali, saya sebagai ketua.
Kami
pun pernah mendapatkan beberapa penghargaan sebagai kebanggaan sebagai muslim
yang berprestasi. Namun bukan urusan agama, tetapi siapa tahu berdampak baik untuk
islam. Ini beberapa diantaranya :
1. Penghargaan “mitra kerja dengan volume transaksi Bank
notes tertinggi” than 2009 dari Bank Mandiri
2. Penghargaan “The
best national money changer contributor” dari PT Bank Mutiara 2010
3. Penghargaan dengan volume transaksi terbesar dari Bank
Mutiara tahun 2012
4. Penghargaan “Anak Bangsa Mandiri” tahun 2012 dari
yayasan Restu Bunda.
Semoga
berbekal prestasi dan posisi yang sedikit itu bisa memudahkan jalan kita
mendapatkan keterwakilan muslim utamanya dan orang Bali pada umumnya di DPR-RI.
Amin.
Sebagai
penambah keyakinan sekaligus doa dari Pembaca, berikut copy “PAKTA INTEGRITAS”
saya untuk menjadi DPD.
Bismillahirhamaanirahiim
PAKTA
INTEGRITAS
Yang
bertanda tangan di bawah ini :
Nama :
Drs. H. Masrur
Makmur, M.Pdi
Umur/Lahir :
49 tahun / 9 Desember
1963
Pekerjaan :
Swasta
Alamat :
Jl Imam Bonjol Perum
Kubu
Pratama D-18
Denpasar Bali
Dengan
ini menyatakan bahwa :
1. Saya bersedia untuk dicalonkan sebagai Anggota Dewan
Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) periode tahun 2014-2019 dari
daerah pemilihan Propinsi Bali
2. Saya bersedia senantiasa taat dan patuh pada perintah
Allah dan Rasul-Nya, para ulama, tokoh masyarakat, yang mengantarkan saya
sebagai anggota DPD-RI
3. Dalam melaksanakan tugas sebagai anggota DPD-RI saya
mengutamakan untuk membawa aspirasi umat di atas kepentingan pribadi, keluarga
dan golongan
4. Apabila saya terpilih sebagai anggota DPD RI, maka
saya bersedia menyerahkan 40 persen dari seluruh penghasilan saya sebagai
anggota DPD RI, untuk kepentingan umat melalui tim 13 Ukhuwah Bali
5. Saya bersedia menanggung biaya sosialisasi dan
kampanye pemenangan.
Semoga
Allah Swt meridhoi usaha dan perjuangan kita.
Amin
Demikian
Pakta Integritas ini kami buat dengan sesungguhnya dan dengan setulusnya tanpa
da paksaan dari pihak manapun.
Denpasar, 22 Oktober 2012
Hormat Kami,
Drs. H. Masrur Makmur, M.Pdi
@@@@@@@
KH. Hasan Ali : Rahmatan lil alamin jangan hanya di bibir saja (dari buku Ketika Beliau Berkisah ttg Islam di Bali)
(1)
KH. Hasan Ali :
Rahmatan lil alamin jangan hanya
di bibir saja
|
Alhamdulillah, semoga tulisan-tulisan seperti ini, karya seperti
ini banyak ditulis oleh anak-anak bangsa
yang beragama islam. Bahkan saya mendukung 100% jika ide membuat media cetak
umum bernuansa islam di Bali segera dilaksanakan.
Tentang saya :
Alhamdulillah juga, 19 Februari 1933 saya terlahir di Palembang dan
Allah masih memberikan kesempatan saya untuk tetap bisa melampiaskan hoby lama
saya sampai sekarang, yaitu membaca. Dalam usia yang berkepala 8 ini saya masih bisa melakukannya meskipun dibantu
kacamata.
Saya
disuruh bercerita ini?. Okelah, dimulai dari mana ya? Oh ini saja ; saya dulu
sekolah di SGHA yang merupakan singkatan dari Sekolah Guru dan Hakim Agama.
Tahun 1957 SGHA dipecah menjadi dua, yaitu (PGA) Pendidikan Guru Agama, dan
(PHIN) Pendidikan Hakim Islam Negara. Saya lulus dan bekerja tahun 1953.
Penempatan
saya kerja pertama di Kantor Departemen Agama Sumbawa Besar tahun 1953 membawa
beberapa harapan dan tantangan. Berdinas selama setahun, 1954 saya dimutasi ke
Mataram sampai tahun 1970.
Tahun
1971 saya mutasi ke Bali yang hampir tidak saya jalani. Bukan karena apa-apa
tetapi saya tidak bisa mengambil keputusan dalam keraguan. Saat itu saya ragu.
Perintah itu sudah saya terima Desember 1970, tetapi saya berangkat Maret 1971.
Ya itu tadi alasannya.
Nah,
di Bali saat itu nama Kantor Kamenag masih Kantor Agama Daerah (KAD). Dan di
sana dipecah jadi dua, Kantor Jawatan Agama Islam dan Kantor Jawatan Agama
Hindu. Lalu 1973 dibuka Perwakilan Depag Propinsi Bali.
Dimana
pun subyektifitas manusia selalu ada, tetapi waktu itu di Bali masih lebih
terbuka. Perasaan hampir semua orang lebih nasionalis. Belum ada kedaerahan
yang menonjol. Tetapi ada juga cerita unik yang musti kita ketahui tentang
budaya Bali.
Semua Pendatang dipanggil Nak Jawa
Sebelum
tahun 1960-an Singaraja itu menjadi ibukota Propinsi Sunda Kecil yang memiliki
wilaya Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. Baru tahun 1960-an
saya lupa tepatnya, berganti nama menjadi Propinsi Nusa Tenggara.
Saat
Singaraja masih menjadi ibukota, kami tidak bisa gajian setiap bulan. Surat
Perintah Membayar Uang (SPMU) datangnya tiga bulan sekali saja untung, kadang
lebih. Jadi gajian kami seperti itu. Tetapi kami tetap bersemangat, karena
disitulah lading amal kami sekaligus tempat mengais rejeki.
Lalu
1962, mudah-mudahan saya tidak salah ya Mas, berdiri Propinsi Bali dengan
Ibukota Denpasar. Sedangkan Komando Wilayan Pertahanan (KOWILHAN) masih
berpusat di Singaraja.
Dengan
kondisi itulah orang islam dari luar yang datang ke Bali tidak kesulitan
mencari makanan halal. Utamanya untuk wilayah Buleleng, Karangasem, Negara dan
juga Singaraja. Mengapa demikian? Karena daerah-daerah tadi sudah lebih dulu
berinteraksi dengan orang luar. Dan mungkin Pembaca yang kelahiran 1970 kesini
akan heran bahwa semua orang luar yang datang ke Bali dipanggil “Nak Jawa”. Mau dari Palembang, Makasar,
Kalimantan, Sumatera, Ambon atau dari mana saja di Indonesia adalah Nak Jawa. Nak Jawa ini sebutannya saja. Dipelesetkan bisa jadi. Padahal asal
katanya, “Nak Jaba”. Jaba itu luar,
sehingga arti lengkapnya orang dari luar, bukan orang dari Jawa.
Rata-rata
masyarakat Bali tertutup saat itu. Mereka lebih mengutamakan adat. Jadi yang
tidak masuk struktur adat, dianggap orang luar. Dan menurut orang Bali saat
itu, yang disebut orang Bali itu yang beragama Hindu. Yang agamanya bukan Hindu
bukan orang Bali.
Nah,
setelah mereka banyak berinteraksi dengan dunia luar, misalnya sekolah ke Jawa
atau ke Makasar, lama-lama terbuka. Mereka menyadari bahwa kita ini butuh plurarisme karena kita Bhineka Tunggal Ika.
Tingkat Keislaman di Bali sangat tinggi
Masuk
Bali tahun 1971 saya menjadi Kasi pengembangan Madrasah. Heran kan? Kok ada ya?
Jangan salah bahwa muslim di Bali menurut saya tingkat keislamannya cukup
tinggi. Makanya didirikanlah madrasah-madrasah di beberapa tempat. Walhasil di Depag harus ada seksi yang
mengurusi madrasah. Sampai tahun 1975 saya beberapa kali mutasi di Kanwil. Dan
tahun 1975 sd 1985 saya dipercaya memimpin sekolah Pendidikan Guru Agama 6
tahun (PGA 6 Tahun) di Singaraja. Dan 1985 saya jadi pengawasan sekolah islam
di Denpasar sampai pensiun tahun 1993.
Bersama
tulisan ini saya pun ingin memberitahu kepada pembaca. Di luar Bali, mungkin
perbedaan ORMAS membuat mereka saling bermusuhan, insya Allah di Bali ini
tidak. Mungkin ada tetapi tidak terlalu signifikan.
Kita
boleh berbeda, bahkan perbedaan itu rahmat. Yang prinsip-prinsip tidak ada
perbedaan. Yang berbeda hanya masalah ibadah. Jadi di Bali
kami sesama ORMAS akrab karena kita sadar tentang perbedaan itu. Kami selalu
mencari persamaan dan bukan perbedaan. Menarik dan bukan mencerca. Mengajak dan
bukan mengusir. Dan Rasulullah selalu bersikap lemah lembut sebagaimana diatur dalam Qs Al Imran : 159.
159. “Maka
disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati
kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan
mereka dalam urusan itu[246]. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Qs Al Imran : 159)
Masalahnya manusia selalu fanatik pada pilihannya
sendiri. Padahal ancaman sebagai orang
musyrik ditetapkan kepada kita yang memecah belah umat (Qs Ar Rum : 30-33)
30. Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui 31. dengan kembali bertaubat
kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Allah, 32. yaitu
orang-orang yang memecah-belah agama mereka[1169] dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap
golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
Selanjutnya Allah memberikan arahan kepada kita
bagaimana mengahadapi perselisihan, bahkan perbuatan jahat. Semuanya sudah
diatur dengan rapid an jelas.
(Qs Fushilat : 30-35)
30. Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan
mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan
gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu. 31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam
kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan
dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. 32. Sebagai hidangan
(bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 33. Siapakah yang
lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan
amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
menyerah diri” 34. Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang
lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan
seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. 35. Sifat-sifat yang baik itu tidak
dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan
melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.
Ini pesan saya, kalau mau mengajak orang, maka kita
sendiri harus (1) menghormati perbedaan (2) menjaga batas-batas tertentu dan
(3) tidak saling menghina dan mencela. Namun semuanya perlu proses. Harus
selalu diupayakan untuk kerukunan ini.
Yang sungguh sangat penting adalah memperbanyak orang
mempelajari Al Qur’an dan memahaminya. Insya Allah akan semakin paham apa itu
islam. Setiap manusia selalu ada nilai-nilai positifnya. Tak terkecuali orang
non muslim.
KH Habib
Adnan Pelopor FKUB
Untuk maksud perdamaian sebagaimana didambakan di
atas, kita telah memelopori adanya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Ini
dikomandoi oleh Almarhum KH Habib Adnan. Beliau ayah dari Pak Taufik yang
sekarang menjadi Ketua MUI Propinsi Bali. Bahkan waktu itu saya masih
reaksioner karena belum paham. Saya sempat menentang beliau.
“Ini bukan strategi tetapi inilah ajaran islam,”
nasehat KH. Habib Adnan menanggapi keraguan saya. beliaulah yang membabat alas.
Sehingga sejak saat itu FKUB terus mengadakan pertemuan meskipun tidak ada
masalah. Apalagi kalau ada masalah. Dulu FKUB ini berkantor di MUI. Sampai
tahun 1998-an lalu diambil oleh pemerintah dan dinasionalkan. Insya Allah FKUB
Bali pertama di Indonesia.
Lalu
tentang bom Bali. Bom Bali I banyak korban jiwa, dan bom Bali II banyak korban
ekonomi. Sehingga 2005 banyak kos-kosan tutup, ekonomi sangat sepi. Tetapi
tanpa membela siapa-siapa, sebenarnya ada hikmah yang bisa kita ambil pada
setiap kejadian. Tak terkecuali tragedi bom Bali. Setidaknya Bali semakin
dikenal dunia, ekonomi pun setelah tertekan menjadi melejit. Muslim pun
berkesempatan melakuan da’wah bilhal.
Rahmatan lil alamin jangan hanya di bibir
Ini
yang ingin saya paparkan bahwa da’wah
bilhal, da’wah dengan sikap ini sudah kita lakukan dengan paling sedikit
tiga hal. Pertanian terpadu, peternakan yang membina masyarakat desa dan program
pendampingan desa mandiri. Dari
sana lalu saudara kita yang asli Bali merasa diuntungkan. Bahkan kalau Mas
Suprio Guntoro dan Mas Zaenal Arifin ke desa-desa itu, mereka sungguh sangat
senang menerimanya. Semua menunggu kedatangannya. Bagus kan?
Dulu
ada ungkapan yang agak membuat telinga merah dari saudara kita Bali. “Kalau
turis membawa dolar, kalau Nak Jawa
membawa kekumuhan / kemiskinan.” Jadi di
satu sisi mereka cemburu, sementara di sisi lain membutuhkan. Pas lebaran saya
naik taksi dan ngobrol dengan sopirnya. Dia mengeluh bahwa lebaran justru sepi.
“Sepi Pak, ndak ada nak jawa,” ungkap mereka. Demikian juga usaha lain tetap
membutuhkan pasar. Setidaknya meskipun Nak Jawa punya usaha, mereka pun menjadi
pasar bagi orang Bali. Jadi simbiosis
mutualisme, saling menguntungkan.
Akhirnya
dimulai dari para pemimpin, lalu mereka sadar akan kebutuhan saling mengisi
itu. Pak Mangku Pastika sempat menyoal masyarakatnya yang tidak bisa membuat “tahu-tempe” dan hanya berharap Nak Jawa
yang berproduksi. Selidik punya selidik ternyata mereka sudah enjoy dengan usaha di pariwisata.
Jadi
kesadaran masyaraat Bali itu lalu menjadi semangat untuk menutupi kekurangan
mereka dan juga Nak Jawa yang ternyata saling membutuhkan. So, jika
saudara-saudara muslim mengalami kesulitan menghadapi sikap tidak bersahabat
dari saudara kita asli Bali, tahun 2006 kami sudah megumpulkan pemuka islam di
Masjid Ibnu Batutah dengan pesan utama memahami sejarah masuknya islam di Bali.
Da’wah islam itu simpatik kok.
Dari
pertemuan itu lalu kita punya program yang disebut dengan Catur Program Umat
disingkat CAPU. Inilah keempat program tersebut :
1. Meningkatkan pemahaman islam dengan sebaik-baiknya
yang berbasis masjid
2. Meningkatkan sosial ekonomi umat dengan
menyosialisasikan ekonomi syariah
3. Meningkatkan kualitas SDM dengan meningkatkan mutu
sekolah dan pesantren.
4. Meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara
(nasionalisme).
CAPU
ini dicanangkan sampai dengan tahun 2030. Bagaimana hasilnya? Ada tetapi masih
sangat lambat. Hal ini selain kesadaran kurang dan seperti biasa umat islam bersifat
reaksionir (kalau tidak ada apa-apa santai-santai, tetapi kalau ada masalah
baru bingung), dan juga sosialisasi dirasa masih sangat kurang. Semoga saja
dengan hadirnya buku ini, para pemuka islam kembali mau mengingatkan kepada
jamaahnya.
Saya
jadi ingat statemen seorang dosen
UNUD yang sangat menggelitik pikiran saya sampai sekarang. Katanya umat islam
tidak bakal bisa bersatu sampai kiamat. Saya tidak usah sebut siapa nama
beliau, yang jelas beliau muslim. Alasannya islam itu parsial dan tidak terpadu.
Inilah PR kita dan saya yakin dengan tenaga-tenaga seperti adik-adik yang
berinisiatif membuat media, Allah akan memudahkan semuanya.
Mari
kita kembali ke khitah rahmata lil alamin,
manfaat bagi seluruh alam. Jangan kalimat itu hanya dijadikan slogan dan hanya
di bibir saja. Jangan sampai untuk kita sendiri saja belum mampu, apalagi untuk
keluar.
Semoga
apa yang saya sampaikan bermanfaat dan selamat menikmati….
@@@@@@@@@@








