Jumat, 01 Februari 2013

Alhamdulillah Poslog Laba 1,7M tahun 2012

Alhamdulillah, dengan perjuangan yang luar biasa, tahun 2012 PT Pos Logistik (anak perusahaan dari PT Pos Indonesia (Persero) bisa laba 1,7. Hal ini cukup membanggakan karena sejak lahir 10 tahun sebelumnya terus didera kerugian.

Semoga tahun 2013 ke depan akan semakin baik lagi kinerjanya. Amin yra


Sabtu, 26 Januari 2013

Menolong orang lain kurangi rasa sakit dan tingkatkan kesehatan

Sahabat, Allan Luks said, "Menolong orang lain dapat mengurangi sakit, mengurangi stres, meningkatkan endorfin, dan meningkatkan kesehatan," Bagaimana dengan Anda? Selamat menjadi 24 Karat

Gigih

Kalau Anda gigih, maka nasiblah yang akan menyerah dan menuruti kehendak Anda

Selasa, 01 Januari 2013

BERMODAL, Ciri Orang Kaya (Dari buku DIlarang Miskin Karya Moeslih Rosyid)

   BERMODAL (Ciri Orang Kaya)


a.      BERMODAL

BERMODAL ini cirri orang kaya yang adalah sebuah singkatan. BERMODAL singkatan dari Berani/syajaah, Empati, Rasional, Motivasi, Orang tua baktiin, Dermawan, Allah tempat meminta, selalu meningkatkan Layanan.

Secara singkat pula dapat saya urai bahwa orang yang kaya itu pasti memiliki keberanian karena dia hanya takut kepada Allah dan dosanya. Keberanian yang dimilikinya bukan saja diterapkan dalam usahanya, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana dengan nasib orang lain? Orang kaya sangat berempati kepada sesame. Bahkan saking empatinya, dia acap berkorban untuk orang lain tanpa memikirkan nasibnya sendiri. Cucuran air mata sering menghiasi pipinya saat teringat masih banyak di luaran sana orang yang hidup menderita. Secara materi menderita dan secara spiritual belum menuju kepada perbaikan. Lalu dia akan membuat coretan-coretan baik di kertas maupun hanya dalam pikirannya, apa yang harus segera dilakukan untuk membantu  mereka.

Rasionalitas bagi orang kaya yang menjadikan hidup ini sebagai ibadah akan diaplikasikannya dalam melakukan kebaikan demi kebaikan. Memberi dan memberi menjadi darah dagingnya. Tidak berlebihan dalam hidup dan tidak takut menghadapi kehidupan yang serba tidak menentu ini.

Orang kaya pasti orang yang hidup penuh dengan motivasi. Sebagian besar motivasi yang diperoleh adalah dari diri nya sendiri (self motivation). Dengan motivasi yang dimilikinya, lalu dia take action dan berbuat untuk orang banyak. Ia tularkan kebaikan dan ilmu serta motivasi yang dimilikinya kepada orang lain. Ada forum facebook, twitter, secara fisik dan pada berbagai kesempatan ia tularkan kenikmatan hidupnya dan bagaimana cara mendapatkannya.

Pembaca, orang kaya adalah orang yang sangat menghormati dan mencintai Orang tuanya. Cobalah Anda tengok dantanyakan, apakah orang kaya di negeri ini melakukannya? Entah agama apapun yang mereka anut, bakti pada orang tua katanya menjadi syarat untuk diraihnya kekayaan. Swear, ini fakta. Mau saya sebut? Nih, Pak Ciputra,……………

Ketika tadi disebut bahwa cirri orang kaya adalah orang yang dekat dengan Allah Tuhan kita, maka memang mereka selalu dan selalu ingin mendekatkan diri kepada-Nya. Jika tidak, kata mereka, ia akan gila dengan permainan dunia yang aneh ini. Mendekat kepadanya dalam forum apapun akan menenangkan dan menjadikan kita semakin kaya raya.

Akhirnya kita harus meyakini bahwa semua hal dalam kata BERMODAL tadi tidak akan bisa terwujud bila kita tidak bisa melayani. Berikan layanan terbaik untuk semuanya. Untuk pelanggan kita, guru kita, orang tua kita, keluarga kita, tetangga kita, musuh kita sesuai porsinya, dan juga Tuhan kita dengan mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Semoga kita dimudahkan menuju kesana. Amin..
































Allah tidak menciptakan Kemiskinan (Dari buku DIlarang Miskin/DM karya Moeslih Rosyid)


f. Allah tidak menciptakan Kemiskinan
Pembaca yang saya cintai, coba isilah titik-titik di sebelah setiap kalimat yang saya kosongkan ini. (1) Allah menciptakan tertawa dan ……  (2) Allah menghidupkan dan ……  (3) Allah menciptakan laki-laki/pria dan …..  (4) Allah memberikan kekayaan dan …..

Umumnya orang akan memberikan jawaban seperti ini. Dan ini 99% seperti itu jawabannya. Yaitu untuk jawaban no (1) Allah menciptakan tertawa dan tangis. (2) Allah menghidupkan dan mematikan. (3) Allah menciptakan laki-laki/pria dan perempuan/wanita. (4) Allah memberikan kekayaan dan? Mungkin anda menjawab kemiskinan.

            Untuk nomor 1 sampai 3 insya Allah semuanya sepakat, namun khusus nomer 4, tunggu dulu. Karena ternyata Allah tidak menciptakan kemiskinan di dunia ini. Tetapi jawaban Anda kemiskinan kan tadi? Padahal tidak ada dalam kamus kita tentang kemiskinan itu.

Untuk meyakinkan Anda, mari kita cermati Al- Qur’an Surat An Najm (53) ayat 43, 44, 45 dan 48 sebagai jawaban yang pasti atas keempat pertanyaan di atas.

            (53 :43) dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis. (53 : 44) dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan. (53 : 45) dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. (53 : 48) dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan.
Sudahlah percaya saja bahwa sebenarnya kemiskinan itu tidak ada. Yang ada hanyalah kecukupan untuk hidup kita. Kemiskinan hanya ada dalam pikiran orang-orang yang kurang bersyukur kepada Allah dan Allah sudah menjamin bahwa setiap jiwa dicukupkan rejekinya oleh-Nya.

      Jika kita ingin membuat alasan agar bisa mengingkari kebaikan Allah kepada kita, tentu saja banyak jumlahnya. Bahkan bisa mencapai ribuan. Dan alasan untuk tidak bersyukur hanya dimiliki oleh orang yang gagal. Dan orang ini tentu saja adalah orang miskin dan akan tetap miskin meskipun dia sedang berkelimpahan harta. Naudzubillah…

Jumat, 19 Oktober 2012

Ciri Orang Kaya, dari buku "DIlarang Miskin" karya Moeslih Rosyid


Ciri Orang Kaya


Agar buku ini kelihatan adil, saya harus mengurai juga apa hasil penelitian saya tentang cirri orang kaya. Meskipun judul buku ini tentang kemiskinan, namun menjelaskan kondisi orang kaya adalah hal mutlak yang akan memudahkan kita mencapainya.
           
            Kaya itu bukan kondisi tetapi pilihan. Kaya bukanlah takdir tetapi nasib. Kita tidak bisa merubah takdir tetapi kita bisa merubah nasib kita. Maka memilih menjadi orang yang bernasib kaya adalah hal penting yang harus kita kejar. Setidaknya kalau kita sudah miskin harta, harus kaya hati. Benar?

a.      Memaafkan
Kebesaran itu ditandai dan kejayaan itu ditandai dengan memaafkan. Masih ingat tidak ketika orang kafir Quraisy ketakutan setengah mati melihat rombongan kaum muslimin dari Madinah menuju Mekah? Padahal mereka tidak embawa apa-apa, tetapi secara aneh Mekah tertaklukkan dengan tanpa melakukan apapun.

            Ini kalau dalam ilmu leluhur kita dari Jawa disebut dengan “Menang tanpa ngasorake,” yaitu menang tanpa harus mengalahkan. Orang yang memaafkan itu posisinya menang lho, dan dia tidak perlu mengalahkan siapa-siapa, dia tetap menang tanpa harus ada yang dipermalukan.

            Cirri orang kaya yang pertama. Kekayaan ini tak ternilai harganya karena mungkin tidak bisa dihitung dengan kalkulator. Memaafkan apapun yang telah dilakukan orang lain kepada kita menunjukkan siapa kita. Cara menunjukkan diri kita bukan dengan cara memaki dan membalas kejahatan dengan kejahatan yang lebih besar, tetapi dengan memaafkan meskipun proses hukum memang harus tetap jalan.

Memaafkan sama dengan menghilangkan bekas kesalahan orang lain. Memaafkan dalam konteks yang lebih tinggi levelnya adalah melupakan kebaikan yang telah kita lakukan. Jika ini sudah bisa kita lakukan, maka predikat kaya sudah melekat pada diri kita. Kebiasaan orang kaya yang memaafkan telah kita lakukan, dan secara pasti entah cepat atau lambat kekayan materi akan menyusul.

Pertanyaan saya kepada Pembaca, setuju tidak bahwa memaafkan itu adalah hal penting yang harus kita miliki setiap saat? Karena ketahuilah bahwa jika Anda ingin melakukan perjalanan jauh, maka hilangkan beban yang akan menghalangi perjalanan Anda. Beban itu adalah salah satunya tidak memaafkan. Jika sudah memaafkan dan perjalanan kita ringan, maka sampai ke tempat tujuan, kaya misalnya, akan mudah untuk dicapai. Semoga menginspirasi.

           
b.      Suka memberi
Pembaca pernah tidak berfikir bahwa orang yang membagi-bagi zakat secara besar-besaran bahkan dim omen Ramadhan sampai ada yang meninggal itu dilakukan oleh orang miskin? Jawabannya tidak. Pasti orang kaya yang terbiasa memberi.

            Kalau Anda merasa belum mampu memberi materi, masih ada yang bisa Anda lakukan, yaitu memberikan tenaga yang Anda miliki untuk orang lain. Bila tenaga pun ternyata tidak ada atau lemah, masih ada peluang untuk tetap bisa memberi, yaitu memberi semangat, support maupun nasihat. Nah kalau sampai di sini Anda tetap belum bisa melakukannya, berikan mereka doa Anda. Pasti Anda akan mendapatkan imbas dari doa itu.

            Orang kaya memiliki kebiasaan memberi, dan kalau ada yang mengaku sebagai orang kaya dan tidak pernah memberi, maka itu adalah fitnah. Tentu saja memberi ini tidak harus diumumkan, bahkan memang saat tangan kanan sedang memberi , tangan kiri tidak boleh tahu. Tetapi apakah Anda merasa suka memberi? Kalau iya, berarti Anda memang orang kaya.


c.      Ingin bermanfaat
Ciri orang kaya selanjutnya dalah selalu ingin bermanfaat bagi orang lain.

d.      Banyak bersyukur
e.      Jiwanya tenang
f.       Dekat dengan Tuhan
g.      Dekat dengan manusia
h.      BERMODAL (Berani/syajaah, Empati, Rasional, Motivasi, Orang tua baktiin, Dermawan, Allah tempat meminta, selalu meingkatkan Layanan)









Pengantar buku "DIlarang Miskin" (DM)



Pendahuluan
 Janji Allah bahwa barangsiapa bersyukur atas nikmat yang diberikan-Nya, akan ditambah nikmat itu. Dan jika ingkar, siksa-Nya sangat pedih. Itu bukan nanti lho. Sekarang pun telah berlaku. Seseorang yang dalam hidupnya dipenuhi dengan rasa syukur, maka nikmat yang dialaminya sungguh semakin bertambah dari waktu ke waktu. Sebaliknya, bagi yang demen mengeluh, apalagi sampai ingkar atau kurang syukur saja, maka penderitaan demi penderitaan akan terasa semakin pedih.
           
Miskin kok dilarang sih? Moeslih Rosyid ini memang selalu menulis hal-hal yang aneh. Ya begitulah adanya. Bukan ingin sok-sokan tetapi saya selalu ingin menyajikan fakta dari hasil penelitian yang saya lakukan.

Sedikit saya kuak bahwa perilaku sebagian besar orang miskin itu sebenarnya memilukan. Bahkan bisa dikatakan mohon maaf, menjijikan juga. Itulah mengapa miskin itu menurut saya dilarang. Ini mungkin dialami oleh Pembaca juga bahwa saat kita miskin, mudah banget tersinggung. Orang miskin akan mengeluh dan memang hiburan terbesarnya adalah mengeluh. Mudah terbakar emosinya dan banyak tindakan nekat alias stress yang sebenarnya karena miskin itu. Miskin harta dan yang sangat mengerikan adalah miskin hati.

Sekarang bandingkan kondisi orang miskin tadi dengan orang kaya. Ciri orang kaya itu pasti pemaaf. Bila tidak demikian tidak bisa dikatakan kaya dan dia tidak akan bisa kaya. Ciri berikutnya adalah suka memberi, bermanfaat, banyak bersyukur, berjiwa tenang dan ia akan BERMODAL. Apakah BERMODAL itu? Yaitu abrivikasi dari Berani, Empati, Rasional, Motivasi, dapat ridha dari Orang tua, Dermawan, Allah dijadikan tempat bergantung dan selalu memperbaiki Layanan. Penasaran kan? Nah, bila ingin pertanyaan ini terjawab silakan Pembaca menyusuri tulisan ringan ini.

            Saya tidak berharap dengan membaca buku ini yang memang ada beberapa petunjuknya, Pembaca menjadi pusing. Jika metode yang diterapkan dalam buku ini tidak sesuai dengan cara Pembaca, boleh kok melanggarnya. Dijamin tidak akan dihukum hehe..

            Jujur saya katakan Pembaca, mungkin hanya untuk buku DM ini yang membuat saya kalangkabut. Saya harus berhati-hati dengan semua isi. Kata per kata harus saya cek dengan penuh ketelitian. Bahkan ini adalah buku yang saya tulis dengan referensi paling banyak. Lebih dari seratus buku menjadi referensi, apa tidak klenger? Jadi gitu deh, penerbitannya juga mundur seiring dengan kondisi tadi.

Saya ingin kita beli kembali Indonesia. Saya sangat ingin entah dengan munculnya buku ini atau hanya sentilan kecil, kemiskinan terkikis dari bumi tercinta. Indonesia harus kaya karena memang sebenarnya sangat kaya potensi.

            Kalangkabut? Bisa iya dan bisa juga tidak. Iya kalau target harus terbit  sebelum Mei 2012, dan tidak bila target itu saya pelorot menjadi tahun 2012 saja.

Saya tidak akan menjadikan kesibukan saya sebagai kambing hitam.  Hidup ini adalah pilihan. Jika kita ingin hidup tenteram, maka membuat skala prioritas sangatlah penting. Dan saya sedang melakukannya tanpa disertai stress yang mengancam saya. Saya ingin semuanya berjalan apa adanya. Segala sesuatu bila sudah tiba waktunya, tak akan ada yang bisa menghalangi. Namun bila belum tiba waktunya, susah deh, namanya juga belum waktunya. So, selain harus terus bersyukur terhadap apa yang terjadi, kesabaran memang harus menjadi kebiasaan kita. Hasilnya? Insya Allah uenak tenan.

            Saya ingin buku MABES dan Iblis Guruku (IG)  benar-benar menjadi solusi dan bermanfaat bagi semua orang. Dan Alhamdulillah nampaknya itu sudah mulai terjadi. Paling tidak orang SMS dan kirim email tentang manfaatnya masih saya terima sampai tulisan ini saya buat. Bahkan untuk buku Mengobati Penyakit Itu Mudah (MPIM) juga demikian. Apalagi buku Menjadi 24 Karat (M-24-K) yang lagi panas-panasnya beredar.
Saya tidak mau turun, buku DM ini harus lebih daripada MPIM, MABES, M-24-K dan IG. Lebih bermanfaat dan lebih mengena bagi semua orang. Boleh kan bercita-cita seperti itu?  

            Saya berprinsip bahwa cita-cita tidak boleh dibatasi. Apapun yang menurut kita baik dan kita yakini kebaikan itu bermanfaat, harus kita kejar sampai dapat. Bahkan sebagaimana buku Menjadi 24 Karat (M-24-K)  yang sudah terbit Juli 2012 lalu, kita harus pandai membuat proposal untuk bisa mencapai apa yang kita inginkan dan cita-citakan. Tentu saja termasuk cita-cita menghapus kemiskinan dari muka bunda pertiwi ini.
           

@@@@@@@

Kamis, 26 Juli 2012

Golek Dukun Nang Endi? Kok Mandi men? (dari buku Pak Ngut, ghost writter : Moeslih Rosyid)

Bagian 9


Golek Dukun Nang Endi? Kok Mandi men?



Berbeda dengan yang saya alami tadi, dik Bibit tidak tahu bahwa hubungan kami sudah direstui. Seandainya saat itu sudah ada Handphone, pasti sudah saya telepon. Minimal saya SMS. Tetapi apa daya, jangankan HP, telepon saja belum ada. Jangankan telepon, listrik saja belum ada. Ya sudahlah tunggu saja tanggal mainnya. Kabar ini biar disampaikan oleh keluarganya saja, saya manut ae. Wong saya juga tidak mungkin datang ke rumahnya dan memberitahukan kabar gembira ini. Gengsi dong, habis diangkat mosok mau dibanting harga diri ini.

Tanggal 22 Agustus 1965, Jam 5 sore naip (petugas dari KUA) datang ke rumah Bibit untuk menikahkan kami. Terdengar kabar buruk bahwa Bibit lari dari rumah. Bahkan dia lari dari rumah sejak pagi karena mau dinikahkan. Dan setelah berhasil dirayu oleh semua keluarganya baru mau pulang. Itupun saat naip datang pas dia seterika, ditinggal lari lagi.

“Yu Tun putri Pakdhe Mul meyakinkan saya bahwa saya tidak akan dipaksa. Maka saya pulang,” ungkap Bibit kepada saya setelah selesai menikah. Usut punya usut ternyata saat Bibit minggat dari rumah, semua keluarga sudah merayunya untuk pulang. Bahkan kalau orang tuanya yang ngomong dia malah sepelekan. Gak direken. Dia remehkan. Dan terakhir Paklik Zaenal mengingatkan dengan kalimat yang jitu baru dia mau pulang.

“Nak, ngko lek ibumu loro mergo kowe trus piye? (Nak, nanti kalau ibumu sakit karena kamu trus gimana?) kalimat ini seperti membangunkan Bibit dari tidurnya. Ternyata dia sayang sama orang tuanya. Tahu tidak Pembaca, belakangan dia mengaku kepada saya bahwa ketika minggat itu dia nglesot (apa bahasa Indonesianya nglesot?) di bawah pohon nangka.

Akhirnya saya paham mengapa Bibit berbuat seperti itu. Ternyata orang tuanya tidak secara lengkap mengatakan kepada Bibit bahwa dia dinikahkan dengan perjaka ganteng dari Srengat Biltar. Dia hanya diberitahu bahwa dia akan dinikahkan. Ya terang saja dia yang hanya cinta ama gua menolak, hehehehe….

Buktinya setelah dia diseret Yu Tun ke jendela dan melihat siapa yang datang, dia mau. “Ealah, bareng ngerti nek mantene aku, dee ngethek ae.” (Ealah setelah tahu kalau pengantennya aku, dia malah nyosor).

“Wistalah, lek mantene dudu Sengut amuken aku,” (Sudahlah, kalau pengantennya bukan Sungut marahin saja aku),” demikian kata Yu Tun kepada Bibit. Alhasil demi mengejar target, saya suruh teman-teman menjemput naip yang tadi harus balik kucing karena pernikahan tidak jelas sore tadi. Jam 21.00 tanggal 22 Agustus 2012 akhirnya kami menikah.

Dan yang sangat menggelikan adalah statemen Mbah Hj. Nusibatun yang seperti tak punya dosa. Beliau menyampaikan ini sambil berbisik kepada ibu mertua saya, “Nduk, anakmu mbok dukunke nyandi kok mandi men?“ (Nak, anakmu kamu carikan dukun dimana kok manjur banget?).”

Ono-ono ae ceritaku iki (ada-ada saja cerita saya ini). Bahkan saat di Surabaya Bibit sempat dilamar bakul empon-empon kepada saya. Dikira dia anak saya, ya ampun, apa saya memang terlihat terlalu tua untuk dia?. Mungkin benar kelihatan tua karena saat itu benar-benar menderita. Saya cuek aja, “berarti bojoku ayu,” (Berarti istri saya cantik.”



*******



Dik Bibit I Love You (dari buku Pak Ngut, ghost writter : Moeslih Rosyid)

Bagian 8


Dik Bibit I Love You





Saat menemukan jodoh yang tepat dan yakin, pasti seseorang akan berjuang untuk mendapatkannya. Selanjutnya, jika semua sudah tiba waktunya, meminangnya dan menikahinya adalah sesuatu yang jamak dilakukan orang. Saya punya cerita yang unik dengan kehidupan pernikahan saya. inilah ceritanya.

Ibu saya meninggal dunia saat saya kelas 6 Sekolah Rakyat. Ayah pun lalu menikah dengan wanita lain. Dari 9 orang bersaudara sayalah yang tukang berontak, sehingga merasa mendapatkan sesuatu yang kurang sesuai dengan nurani saya, saya minggat dari rumah dan tinggal di rumah Pakdhe. Pakdhe yang saya ikuti ini bernama Pakdhe Mulyo kakak ibu saya.

Waktu berlalu sampai saya sudah mengenal akan apa itu cinta. Cinta itu perasaan yang tidak karuan itu kan? Hehehe… dan saya menemukannya di rumah Pakdhe Mul. Di sebelah rumah Pakdhe ada gadis cantik imut yang ayune nemen (cantiknya luar biasa). Sayangnya dia belum tahu apa-apa karena masih kecil. Maklum selisih umur saya dengan dia 9 tahun. Akhirnya meskipun dia gak ngerti-ngerti saya buat ngerti sajalah hehehe…

Walhasil, saya bisa membuat dia mengerti dan ternyata saya tidak sedang bertepuk sebelah tangan. Rupanya selama beberapa tahun saya di rumah Pakdhe yang bertetanggaan dengannya, dia sudah menyimpan rasa itu sejak lama. Tetapi saat saya tanya, dia pun tidak tahu apakah itu cinta atau apa sebutannya.

Saya tidak tahu persis kapan kami jadian. Bahkan bahasa jadian saja saya baru dapat dari anak-anak IME saat kami ngobrol-ngobrol. Yang jelas kami saling suka.

Tahu tidak Pembaca? Saya masih ingat bahwa saya punya panggilan kathak kithik yang bisa diartikan setan alas. Entah karena itu atau atas sebab apa tak seorang pun dari keluarga gadis cantik bernama Bibit Siti Rahayu ini setuju dengan hubungan kami. Kalau Pembaca menjadi saya gimana ni? Saya sudah kadung kepencut. Bahkan benar kata gombloh, “tahi kucing rasa cokelat” semua yang berhubungan dengan Dik Bibit adalah keindahan. Oh Allah, rupanya ini to yang disebut cinta. Pengin ketemu terus dan sangat ingin memiliki.

Ilmu otak atik saya terapkan. Saya menemukan prinsip Karl Mark dan juga Bung Karno. Dan ini juga ada di San Min Chu. Intinya sesuatu dilihat dari pokok dan tidak pokok. Yang pokok diutamakan dan yang tidak pokok bisa diotak atik. Saya suka kepada Bibit, jadi yang penting Bibit saat itu. Saat itu orang lain tidak penting, tetapi saya tetap hormat pada orang tuanya.

Berbekal dari prinsip itu, maka sejak saat itu dengan berbagai strategi saya majuuuuuu jlan!!!. Dan Alhamdulillah hasilnya, tetap ditolak dan diusir oleh keluarga mereka. Sedih…

Berbagai cara saya lakukan untuk mendapatkannya. Segala strategi sudah saya terapkan dan hasilnya masih nihil. Saya sempat berfikir apakah dia bukan jodoh saya? Tetapi saya tidak boleh mundur. Harus terus maju dan maju, pantang mundur. Saya masih punya seambrek strategi baru. Mudah-mudahan strategi ini jitu. Tetapi apapun hasilnya gak masalah, yang penting usaha.

Ini taktik untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Saat dia daftar kuliah di Malang, masuk di Fakultas Ekonomi Brawijaya, saya bawa ke rumah saya di Malang. Sehingga orang kampung geger dikira Bibit saya bawa lari. Padahal dia nunggu saya di Rumah Sakit Lavalete. Saya kena Thypus, mungkin kelelahan atau karena mikir Bibit kali ya?

Karena gegernya di kampung, Pakdhe Mulyo datang ke rumah Malang. Ndelalah beliau melihat ada sandal perempuan di kamar. “La iki opo, tenan digowo mlayu,” (Nah ini dia, ternyata benar dibawa lari). Akhirnya meskipun saya baru pulang dari rumah sakit, dipaksa pulang saat itu tanpa penjelasan yang jelas.

Pagi-pagi orang tua Bibit datang ke tempat saya. saya tidak tahu apa yang akan mereka labrakkan lagi kepada saya. saya pun masih lemah, lemes karena sakit kemarin belum 100% pulih. Tetapi biarlah, apapun yang akan terjadi saya serahkan kepada Allah Swt. Mau dimarahi kek, mau dicaci maki kek, bahkan dipukul pun saya siap. Apalah arti sebuah penderitaan di dunia. Toh saya juga sudah mengalami sakit yang lumayan kemarin.

Saya temui mereka dengan hati yang berantakan. Deg degan, khawatir, dan sangat takut. Maklum kekuatan jiwa saya agak menurun karena fisik juga masih lemah. Tetapi ternyata mereka tidak melabrak saya. mereka datang dengan baik-baik. Dan duduklah kami di ruang tamu. Saya menunggu apa kira-kira yang akan dikatakan mereka. Saya siap dicaci maki bahkan bila disuruh pergi dari kampung itu akan saya pertimbangkan.

Ternyata mereka tidak melakukannya. Kami ngobrol dengan baik dan penuh dengan kekeluargaan. Saat ditanyakan perihal kesehatan saja, saya sudah berbunga-bunga. Dan….

“Dik Sengut, arep opo-opo ae mungkin iki wis dadi jodomu. Dadi wong tuwo saiki mung kari mgrestui ae. Insya Allah kowe ndang dirabekne karo Bibit putriku,” (Dik Sengut, apapun kondisinya mungkin ini sudah menjadi jodohmu. Jadi orang tua sekarang tinggal merestui saja. Insya Allah kamu segera dinikahkan dengan Bibit Putri saya). Setengah sadar saya cubit kulitku, ternyata ini fakta dan bahagia ini rasanya luar biasa. “I love You Bibit…!!.”

Lalu saya bertanya, “kapan acaranipun Mbok? (kapan acara pernikahannya Bu?). “yo dino iki,” (ya hari ini). Seperti disambar geledek mendengar ungkapan beliau.

******

Kuliah Berhenti Karena Gestapu (dari Buku Pak Ngut, Ghost writter : Moeslih Rosyid)


Bagian 7

Kuliah Berhenti Karena Gestapu





Mungkin saya adalah salah seorang yang memiliki masa kecil bahagia. Dan mohon jangan terlalu larut oleh penuturan saya yang bakal melankolis di bagian setelah ini. Masa kecil itu telah lewat. Masa kecil yang tetap menderita tetapi indah itu sudah berlalu. Saya sudah mulai harus bertanggung jawab. Hidup saya adalah tanggung jawab saya.

Sepedih-pedih masa kecil sampai SMA tidak sepedih masa seusainya. Setelah itu jujur, saya sering merasa dunia ini acap kiamat. Hari-hari saya terlalu sering mendung. Hidup ini penuh dengan penderitaan dan kedzaliman. Hidup ini tidak adil. Terlalu lama saya menjalani hidup sulit dan sangat berat. Berdarah-darah dan sangat mengenaskan.

Tahun 1959 atas informasi dari teman-teman dan tetangga, saya memberanikan diri mencari keberuntungan. Saat SMA, saya sudah mendaftar Tentara Aspiran Kadet, yaitu akademi militer untuk lulusan SMP yang waktu belajarnya lima tahun. Dan karena tidak lulus, ya bersenang-senang di masa SMA masih saya lanjutkan. Sampai kemudian tahun 1962 saya menjadi mahasiswa perdana Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya yang sekarang disingkat UB. UB masih swasta waktu saya menjadi mahasiswa disana.

Saat itu UB ra gablek gedung (tidak punya gedung) satu pun. Kuliah kami jalani dengan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kadang di Guntur I atau di alun-alun bunder dan tempat lain yang sangat kurang representative sebagai kampus.

Bangga sebagai sarjana muda, tiba-tiba saya harus mengalami tragedy yang memilukan di masa Gestapu. Saya ditangkap karena dianggap menjadi anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Ditahan dan diusut berkali-kali tidak terbukti, lalu dilepas. Karena saya anggota Gerakan Mahasiswa Indonesia (Germindo). Gambarnya banteng utuh, koyo nguyuh (seperti mau kencing,red).

Saya pun lalu melamar sebagai guru. Hasilnya? Tidak lulus. Entah karena apa. Mungkin tuduhan yang tidak terbukti itu tetap melekat pada diri saya. dan sialnya, di tahun 1966 itu saya ditangkap dan dipenjara selama 13 bulan. Padahal saya menikah belum tiga bulan lho…. Coba bayangkan gimana perasaan saya waktu itu?

Sedih rasanya berpisah dengan istri. Saya dipenjara di SKI yang kalau sekarang di DODIKJUR Sawojajar. Inilah permulaan penderitaan demi penderitaan menerpa saya. Namun sekarang saya harus bersyukur karena dengan kejadian itu saya menjadi seperti ini. Belum tentu saya menjadi orang bila ilmu-ilmu tadi tidak saya terima. Salah satunya dengan cara itu, kuliah tidak selesai karena banyak masalah.

Kalau tidak diuji seperti itu saya tidak yakin bisa sekuat ini. Saya tidak yakin bisa menyelesaikan berbagai persoalan hidup yang rumit selama ini. Mungkin saya akan gembeng, cengeng dan gagal. naudzubillah@



*******

















Disayang Guru, SMP dan SMA Sampai 8 Tahun (dari buku Pak Ngut ghost writter : Moeslih Rosyid)

Bagian 6


Disayang Guru, SMP dan SMA Sampai 8 Tahun





Pembaca, memang saya tipe orang yang suka menghibur diri. Saat hal buruk terjadi saya segera ingin melupakannya. Emang gua pikirin, kata orang Jakarta. Tetapi kalau dipikir-pikir mungkin saya keterlaluan barangkali. Saya menjalani sekolah SMP dan SMA sampai 8 tahun.

Saat di SMP Srengat, saat itu kalau sekolah membawa kursi sendiri. Tetapi kok asyik-asyik saja ya? Dan senengnya minta ampun kalau jam kosong. La bagaimana, gurunya saja begitu, apalagi muridnya.

Bahkan saat SMA di Blitar, gurun saya bekas Tentara Pelajar (TP). Entah pinter atau tidak, yang penting mengajar. Wis embuh manut aelah. Sehingga ketika seharusnya tahun 1958 saya sudah lulus SMA, kenyataannya tahun 1960 masih SMA. Dan tahun 1961 baru lulus dari SMA. Hiburan untuk diri saya, berarti saya disayang oleh para guru. Sehingga kerasan bersama mereka.

Selama sekolah SMA saya tidak lulus tiga kali. Saya ujian tiga kali dan baru lulus tiga tahun berikutnya. Gak apa-apalah. Buktinya sekarang sukses. Ini pun hiburan sebagai bentuk syukur saya kepada Allah yang mengaruniai saya banyak kenikmatan.

Tetapi jangan meniru saya. belajarlah yang rajin. Hidup ini harus ada target, karena bila tidak ada target yang ingin dicapai, biasanya seseorang menjadi loyo, lemes dan kurang bersemangat@.



*******

















Jumat, 06 Juli 2012

Ada Yang Kirim Undangan, Lari, Takut Disuruh Baca (dari Buku Pak Ngut Ghost Writter : Moeslih Rosyid)


Bagian 5

Ada Yang Kirim Undangan, Lari,

Takut Disuruh Baca





Tetapi jangan dikira saya tidak konsisten dalam mengurai pengalaman saya. Meskipun berani dan terkadang gila, saya tetap saja adalah anak bodoh yang mengenaskan.

Di SR saya dua kali ujian dan sudah besar masih belum bisa membaca. Saya shalat pun juga sudah besar baru melaksanakan. Tetapi memang aneh bin ajaib, saat itu saya kok cuek saja ya? Kalau ingat yang ini jadi pengin marah pada diri sendiri. Bayangkan punggung ini banyak dihiasi garis-garis bekas pukulan rotan ayah.

Dan hal yang amat menakutkan saya adalah saat ada yang mengirim undangan ke rumah, ngerrriii. Lebih 80% dijamin saya akan dipukul ayah lantaran saat disuruh membaca undangan tidak bisa. Tetapi mungkin sebenarnya saya adalah anak yang cerdas. Berlari bisa menyelamatkan saya dari cambukan ayah. Setidaknya ini solusi sementara yang bisa dilakukan. Saya tidak ditanya tentang isi undangan dan bebas meskipun hanya sementara.

Tetapi ada yang lebih uaneh dalam hidup saya. Terhadap berbagai hal yang terjadi, saya kok ora kroso yo? Tidak terasa. Mungkin ndablek, bego atau goblok tadi ya? Padahal ayah saya itu kuerengnya, galaknya minta ampun. Tetapi kalau habis dipukul, ya sudah, sudah lupa. Seolah pukulan-pukulan itu menu tambahan saya. Vitamin tambahan saya untuk menjadi anak dewasa meskipun saat itu seperti tidak ngaruh.

Bukan hanya itu. Alasan ayah memukuli saya masih ada beberapa. Salah satunya jika dangir (mencangkul) jagung tidak lurus. Alasan lain jika bekerja sambil membungkuk saya juga dipukul. Padahal setelah saya periksa ke Singapora (saat sudah mulai tajir bro), bungkuk saya itu bawaan lahir. Jadi menurut dokter Singapore, ada tiga ruas tulang belakang saya yang menciut. Dan jika ingin menyembuhkannya harus dioperasi. Seperti dikolter gitu lho katanya. Tapi meskipun pinggang saya sakit, kalau saya putar pinggang bisa langsung hilang sakitnya. Ini tentu disebabkan saya rajin minum susu. Tahu tidak alasan ayah menyuruh saya tegak? Latihan nafas katanya… bagus kan?

Percaya tidak Pembaca? Saat saya yang ndeso ini tidak pernah minum susu, pas minum pertama saya mencret. Bingung dan hampir putus asa, karena hal ini terjadi dalam beberapa hari. Tetapi ternyata menurut ilmu kedokteran, jika kita sering minum susu dinding usus kita akan menebal dan kuat. Jadi rupanya saat minum pertama dan mencret itu disebabkan oleh menipisnya dindin usus saya. Jadinya susu hanya lewat, bablas ke bawah tanpa ada yang menghalangi. So, susu sangat penting untuk kesehatan kita.

Kembali tentang undangan, akhirnya memang saya harus bersyukur. Kalau dulu takut mendapatkan undangan karena tidak bisa membaca dan dipukul ayah, sekarang menunggu kalau-kalau ada undangan mengisi seminar hehehe…@

Ayah Takut Diumpleng (dari buku Pak Ngut , Ghost writter : Moeslih Rosyid)


Bagian 4

Ayah Takut Diumpleng





Pasti banyak yang tidak tahu apa itu diumpelng kan? Diumpelng itu artinya digeledah. Jadi pada jaman Jepang, ayah kalau nderepno (panen padi) tidak dibawa ke lapangan semua. Perintah Jepang harus dibawa semua. Kira-kira kalau ditiimbang sekitar paling banyak 20% dititip di rumah. Kalau lebih dari itu ya pasti akan diumpleng oleh Jepang.

Penasaran ya mengapa harus diumpleng? Saat itu ada kucukaheo semacam sirine tanda bahaya yang memberikan sinyal bahwa Jepang akan datang. Pohon bambu disambung-sambung disandarkan di pohon kembang, jadi tangga dan digunakan untuk berteriak, “Kucukaihooooo!!!.” Artinya orang disuruh sembunyi.

Lalu semua orang ngerong (masuk lobang yang digali dan ditutup tempat tidur atau semacam banker di rumah-rumah) agar tidak ketahuan Jepang. Orang juga menggigit gabus agar tidak budheg (tuli) bila ada ledakan bom.

Namun risikonya, gabah-gabah yang ada di lapangan diambili semua oleh Jepang keparat itu. Jadi keputusan ayah menaruh sebagian di rumah adalah tindakan bijak sekaligus cerdas mengantisipasi sikon yang tidak menguntungkan itu.

Memang kita harus cerdas dalam menyikapi hidup ini. Bila tidak, kita akan tergilas oleh laju kehidupan yang memang keras ini. Tidak dahulu tidak sekarang, sama saja. Maka, mari terus belajar dari segala penjuru agar kita selamat dalam menjalani hidup yang sementara ini.

Dan di buku antik ini, Pembaca akan banyak menyaksikan kegilaan saya dalam menyikapi hidup ini. Semoga memotivasi dan membuat Anda semua kuat dan sukses.@

Kamis, 05 Juli 2012

Kathak Kithik Yang Bodoh (Dari Buku Pak Masngut, Ghost Writter Moeslih Rosyid)


Bagian 3

Kathak Kithik Yang Bodoh





Di jaman Jepang, rasanya geli campur malu bila ingat panggilan kebanggan saya. “Kathak Kithik” apa itu kathak kithik? Kathak kithik iku sebangsa setan uelek cilik sing neng sor pring (Kathak kihtik itu semacam setan jelek, kecil yang suka berada di bawah pohon bambu).

Gimana kalau Pembaca dipanggil dengan panggilan seperti itu? Seneng apa jengkel? Atau cuek saja? Kalau saya cuek saja hehehehe…

Sayang saat itu belum bisa diabadikan betapa gantengnya saya. Bila dokumen itu ada, anak saya dan Pembaca pasti terpingkal-pingkal menyaksikannya.

Saya terkenal menjadi anak yang jarang memakai baju. Lha bagaimana mau pakai baju, wong memang tidak punya. Bahkan untuk sekolah saja baju hanya satu dan dipakai selama seminggu. Saat baju dicuci hari minggu, ya saya telanjang dada. Dan apakah andalannya? Sarung yang kata Pak Dahlan Iskan barang serba guna yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Saya mengalaminya.

Dengan jlitheng tubuhku yang membanggakan itu, tak jarang saya dan teman-teman manjat lori yang membawa tebu, nggantholi, dan menikmati hasilnya. Hanya untuk dimakan saja, bukan untuk dijual kembali hehehe…

Bahkan tak jarang, karena saking semangatnya hanya ingin mendapatkan sebatang tebu, tubuh ini terpelanting nyaris jatuh. Dengan pengalaman itulah, meskipun tetap mencuri, saya termasuk yang berhati-hati.

Saya belum paham dengan panggilan kathak kithik itu waktu itu, tetapi sepertinya memang saya bodoh. Buktinya setelah saya paham saya manut saja. Kalau dipanggil dengan panggilan menjijikkan itu saya tetap menoleh. Ya sudahlah, ini kan kebiasaan orang kampung yang selalu mempunyai panggilan kecil. Dan saya kebagian mendapat panggilan kathak kithik.

Kebodohan saya waktu kecil memang keterlaluan. Bahkan saat kami harus mengaji sekalipun, saya tidak bisa. Disuruh mengaji, penggaweane gelut ae (pekerjaanya berkelahi saja). Padahal tidak pernah ada yang menang dalam setiap perkelahian itu. Tetapi kejadian itu terus dan terus berulang. Mungkin karena saat itu belum ada hiburan, berkelahi cukup menghibur barangkali. Sehingga penyesalan itu akhirnya terbawa sampai saya naik haji tahun 1988. Saya tidak bisa mengaji, baca qur’an dan karena dilarang ini dilarang itu, maka saya diam saja saat haji. Eh, malah selamat.

Maka, sebagai penebus dosa, sepulang haji saya memanggil guru mengaji. Alhasil, tetap tidak bisa. Sekarang diajarkan, besok sudah lupa. Ya Allah ampunilah hamba-Mu ini.@



Umur Saya 74 Tahun (Dari Buku Pak Masngut, Ghost Writter Moeslih Rosyid)

Bagian 2


Umur Saya 74 Tahun





Saya jadi sedih sekaligus merasa berdosa mengenang masa kecil yang penuh dengan cerita sedih ini. Ibu saya setiap tahun melahirkan. Dan tentu saja sebagai anak ketiga yang lelaki, sayalah yang disuruh memanggil dukun beranak.

Kalau melahirkannya siang, insya Allah tidak terlalu bermasalah, tetapi kalau tengah malam? Saya kan juga punya rasa takut pada gelap. Maklum jaman dahulu jangankan listrik, ublik saja lumayan susah didapat. Ya begitulah kehidupan di masa itu. Sampai akhirnya orang tua saya punya 9 orang anak. Maklum KB belum ada, sehingga sepasang suami istri rata-rata punya anak hampir sejinah (sepuluh ; Jawa) adalah hal yang jamak. Sudah biasa.

Yang aneh tapi nyata, adalah masalah umur. Dan yang ini pun saya haqul yakin, teman-teman seumur saya juga mengalaminya. Maka saya putuskan dengan sangat gagah bahwa saya lahir pada tanggal 17 Agustus 1938. Jadi saat buku ini saya tulis (2012,red) saya berumur 74 tahun. Mbuh bener opo gak (entah benar atau salah), karena saat lulus Sekolah Rakyat (SR) saya harus melaporkan tanggal lahir saya atau saya tidak lulus SR.

Tetapi ojo diguyu yo? (tetapi jangan dikatawain ya?) nampaknya umur saya memang segitu. Mas Moko adik kelas saya yang punya akte kelahiran zaman Belanda, tercatat lahir tahun 1939. Kira-kira selisihnya segitulah.@



*******