Senin, 28 Mei 2012

Shalat Untuk Mandi, Bebersih Diri Kesembilan (Dari Buku Menjadi 24 Karat Karya Moeslih)


i. Shalat untuk mandi

Jika shalat adalah mandi, maka dalam sehari kita harus mandi sebanyak minimal lima kali. Jika kita ingin meningkatkan posisi lebih tinggi sedikit dari orang awam, setidaknya kita ada tambahan shalat yang kita rutinkan. Minimal shalat rawatib atau shalat sunat yang mengiringi shalat wajib. Sudah berapa kali kita mandi jika sudah bertambah? Belum lagi kalau kita mulai tertib melaksanakan shalat dhuha, tahajud dan yang lain. Tentu jumlah mandi kita akan semakin banyak.

Apakah jika intensitas mandi kita lebih sering bisa benar-benar membersihkan diri kita dari kotoran? Belum tentu. Karena di dunia ini ada orang yang melaksanakan shalat, bahkan shalat tahajud hanya dijadikan sebagai pembayar hutang. Hanya sebagai formalitas saja. Yang demikian ini, meskipun shalatnya 1000 rekaat mungkin belum bisa membersihkan kotoran.

Pembaca, bagaimana jika Anda mandi dalam sehari sebanyak tujuh kali seperti saya waktu di Ambon? Tetapi syaratnya mandilah sebanyak mungkin tanpa menggunakan sabun. Dalam sehari jangan bersikat gigi. Dalam dua hari jangan keramas dengan sampo. Dan setiap habis mandi jangan mengelap air dengan handuk. Coba bayangkan apa yang bakal terjadi bila kita mandi seperti itu?

Sama dengan shalat kita. Banyak orang yang sangat rajin shalat, bahkan kelihatannya sangat khusu’, tetapi dia masih suka berbuat keji dan mungkar. Yang ini diibaratkan kita mandi tanpa sabun, tanpa pakai handuk, dalam sehari tidak sikat gigi dan jarang keramas.

Inilah hasil penelitian saya tentang mandi dalam shalat. Semoga setelah ini ada hasil penelitian yang lebih baik lagi. Maklum saya melakukannya hanya sambil lalu saja. Dan mohon maaf bila hasil penelitian ini belum merepresentasi dari maksud yang dituju. Sabun mandi dalam shalat adalah khusu’ dan konsentrasi. Menggunakan handuk adalah kebersihan diri dan tempat shalat. Sikat gigi adalah kebersihan jiwa dari berbagai hal. Keramas adalah pakaian yang digunakan untuk shalat karena jika pakaian kotor, maka akan terasa gatal dan mengganggu shalat. Dan frekuensi mandi baik yang memilih tiga kali sehari maupun yang dua kali sehari adalah tepat waktu dalam shalat.

Saya pun ketika menjelang takbiratul ihram untuk shalat, selalu berdoa untuk sukses menghadap saya kepada-Nya. Mau meniru? Inilah bacaan yang say abaca sebelum shalat. “Rabbi a’udzubika min hamazatisy syaithani wa a’udzubika rabbi an yahdhuruun.” Lalu saya teruskan dengan mantra : “Ya Allah, saya shalat, dadaku menghadap qiblat, hatiku menghadap baitul ma’mur, rohku menghadap baitul arys, mataku di tempat sujud dan shalatku hanya untuk-Mu wahai Allah.” Lalu berniat dan takbiratul ihram.

Dan saya pun termasuk aliran yang mandi tiga kali sehari. Saya yakin bahwa Pembaca penganut mandi sehari dua kali kan? Alasan saya menjadi golongan yang mandi tiga kali sehari adalah usaha bukan saja mandi untuk membersihkan diri tetapi juga menyucikan diri. Dalam mandi tiga kali sehari, yang satunya adalah mandi antara pukul 01.00 dini hari sampai menjelang subuh. Yang kedua tentunya sebelum berangkat kerja dan yang ketiga mandi sore hari. Ini jumlah minimal yang saya lakukan. Pelaksanaannya bisa empat dan mungkin sampai tujuh kali. Mau memilih yang mana? Up to you dong…

Mari kita bersihkan dan sucikan diri kita dengan mandi yang lengkap tadi sebanyak mungkin dalam sehari. Perintah Allah pertama kepada kita untuk shalat dalam sehari adalah 50 rekaat. Sebenarnya kita harus sami’na waatha’na, mendangar dan mematuhinya. Berhubung ada provokator dari nabi lain, akhirnya Rasulullah Saw berkenan memohon keringanan. Keringanan ini diminta karena sebagian besar umat beliau diprediksi tidak mampu melaksanakannya. Bahkan setelah didiskon sebanyak itu pun banyak pula yang tidak melaksanakannya. Sedangkan saya, bukan saja ingin melaksanakan yang lima waktu atau 17 rekaat sehari tetapi yang 50 rekaat. Semoga Allah memudahkan saya dan Pembaca buku ini. Amin..

Dan ternyata tidak sulit kok kita laksanakan. Mari kita hitung. Jika Anda sudah shalat wajib dengan tertib, maka sudah bisa menabung 17 rekaat. Shalat rawatib yang muakad saja sudah 14 rekaat. Shalat dhuha 4 rekaat. Shalat tahajud 4 rekaat. Shalat hajad 4 rekaat. Shalat tasbih 4 rekaat. Shalat istikharah 2 rekaat. Shalat witir 3 rekaat. Mari kita jumlah : 17+14+4+4+4+4+2+3= 52 rekaat. Belum yang lain seperti shalat mutlak, shalat taubat dan lainnya.

Jika pembaca telah mampu melaksanakan 50 rekaat, insya Allah kita tidak akan pernah menderita karena dihibur oleh shalat kita. Ingat, perintah shalat adalah obat. Rasulullah sedang bersedih hati atas meninggalnya istri tercinta Siti Khadijah dan sang paman Abu Thalib. Bahkan saat itu beliau juga dilempari batu di Thaif saat menyebarkan islam. Saya berempati bahwa beliau saat itu sebagai manusia biasa sangatlah sedih menerima keadaaan itu. Maka, shalat adalah obat dan bagi saya juga trigger untuk mudah dalam mencapai keinginan dan cita-cita. Kebersihan diri kita akibat shalat akan memudahkan kita dalam mendapatkannya. Selamat mencoba.

****

Menjaga Wudhu, Bebersih Diri Kedelapan (Dari buku Menjadi 24 Karat Karya Moeslih Rosyid)


h. Menjaga wudhu

Paket dari poin di atas, ingat Allah 24 jam demi membersihkan diri kita ini, adalah dengan menjaga wudhu kita. Memang wudhu dimaksudkan untuk menyucikan diri dari hadats kecil. Wudhu memang dipersiapkan bagi orang islam untuk shalat. Namun jika Anda bisa menjaganya, subhanallah, saya berani menjamin bahwa apa yang Anda inginkan akan mudah bisa tercapai. Terlebih Anda melakukan ini dalam sehari bisa 24 jam. Saya masih belum bisa total melaksanakannya.

Saya yang masih terlalu lemah yang tentu saja bukan contoh yang baik pun sudah banyak mendapatkan manfaat menjaga wudhu. Secara sederhana menjaga wudhu saya lakukan dengan sangat mudah. Misalnya setelah mandi saya pastikan langsung wudhu. Setelah buang air kecil atau besar, jika ada tempat wudhu, saya pastikan berwudhu. Dan sudah barang tentu setiap menjelang shalat wajib saya pasti wudhu. Baik memang sudah batal atau tidak, saya tetap berwudhu lagi jika waktu tenggatnya lama.

Nah, inilah yang ingin saya tularkan kepada Pembaca. Saya selain yang saya urai pada alinea di atas tadi, setiap batal, misalnya buang angin atau kencing, saya terus berusaha untuk berwudhu. Trus, bagaimana bila ternyata tidak bisa? Misalnya tidak ada air untuk wudhu atau sudah batal wudhu tetapi tidak memungkinkan untuk berwudhu, maka saya perbanyak membaca istighfar. Biasanya kalau sedang di kantor atau ada pertemuan, dan saya sudah batal wudhu, maka istighfar adalah makanan pokok saya. Yah, saya ingin bertindak yang logis-logis saja. Saya tidak ingin memaksakan diri. Dan saya juga tidak ingin terlihat seperti orang suci yang luar biasa. Saya ya hanya seperti ini, apa adanya. Dan tahu tidak Pembaca? Apa yang saya lakukan ini mendapatkan sangat banyak manfaat. Apapun yang saya inginkan hampir 100% terjadi. Bahkan tak jarang hanya dengan membatin saja. Saya mohon Pembaca tidak percaya sebelum membuktikannya. Siap?

****

Ingat Allah 24 jam Sehari, Bebersih Diri Ketujuh (Dari buku Menjadi 24 Karat Karya Moeslih Rosyid)


g. Ingat Allah 24 jam sehari

Saya sering dimarahin orang entah itu serius atau hanya bercanda. Gara-garanya sehabis shalat saya jarang berdzikir dengan khusu’ dan lama. Bahkan tak jarang saya usai shalat wajib, hanya sekian detik langsung shalat sunat rawatib dan langsung go. Benar saja kalau mereka berfikir saya tidak berdzikir. Mohon maaf atas kesalahan saya ini.

Saya hanya berfikir bahwa mengingat Allah adalah 24 jam sehari. Dan itu tidak harus dilakukan dengan duduk bersila yang hanya terlaksana usai shalat wajib atau tahajud. Mengingat Allah harus dilakukan sambil berdiri, duduk, telentang atau apa saja (Qs Al Imra 191). Dan itulah yang ingin saya lakukan. Bahkan saya tetap berdzikir sambil melakukan aktivitas lainnya. Misalnya nonton TV, sambil ngobrol atau kegiatan lainnya.

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (Qs Al Imra 191)

Allah itu memiliki frekuensi yang tak terbatas dan tak pernah putus. Diibaratkan radio yang paling hebat di dunia sekalipun yang frekuensinya sangat luas dan 24 jam, maka Allah lebih dari yang seperti itu. Nah, jika kita memutar radio dan mengambil frekuensinya, maka kita akan dapat. Jika kita ingin mendengarkan siarannya dan tidak melakukan apa-apa, ya sori saja, kagak akan bisa. Setidaknya Anda harus menggunakan internet atau media apa saja untuk mengambil frekuensinya. Sama halnya dengan Allah, frekuensi Allah tersebar tanpa batas ruang dan waktu. Jika kita memutarnya, pasti dapat dan jika kita tidak memutarnya ya gimana ya? Namanya juga tidak mau mengambil, meskipun diberi kalau tidak diambil kan tentu akan hilang pemberian itu.

Sehingga sampailah kita pada lagu Kang Sam Bimbo yang berjudul “Tuhan.” Aku jauh Engkau jauh, aku dekat Engkau dekat. Bagi Anda yang memiliki keinginan dan cita-cita, jangan pernah untuk memutus frekuensi Anda dengan Allah, dengan Tuhan kita. Jika ini sudah kita lakukan, tatkala kita belum puas dengan apa yang terjadi yang mungkin tidak sesuai dengan kehendak kita, insya Allah ketenangan ini akan ada bersama kita. Jangan percaya sebelum membuktikannya.

****

Siap Berdampingan dengan Musuh, Bebersih Diri Keenam (Dari buku Menjadi 24 Karat Karya Moeslih Rosyid)


f. Siap berdampingan dengan musuh, jangan fokus pada yang sulit



Sebuah kekayaan penting dalam hidup adalah mendapat kepercayaan dari orang lain. Dan untuk memenangkan kepercayaan itu adalah dengan hati

(Anonim)

Pembaca yang saya cintai dan saya banggakan (tentu karena suka membaca maka saya banggakan), dalam hidup ini terkadang kita sudah berusaha menjadi baik dan betul-betul sudah berperilaku baik. Namun anehnya masih saja ada pihak atau orang yang tidak suka pada kita. Kadang ketidaksukaan mereka itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi sehingga kita tidak tahu, dan kadang terang-terangan.

Jika orang yang tidak suka bahkan mungkin membenci kita itu melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, ada kalanya dilakukan dengan cara licik. Di depan kita seolah dialah teman atau saudara atau tetangga yang terbaik pada kita. Tetapi di belakang kita, pencemaran nama baik kita tak putus dilakukannya. Menikam dari belakang. Mungkin iri bisa menjadi alasannya. Ingin menjatuhkan juga merupakan alasan lainnya.

Ada lagi orang tidak suka pada kita yang dilakukan dengan cara diam saja. Ini agak lebih berbahaya karena doanya pada kita selalu yang buruk-buruk. Dia akan sangat senang melihat kita menderita, dan menderita melihat kita senang. Bisa diistilahkan SMS (Senang Melihat orang lain Sedih dan Sedih Melihat orang lain Senang). Naudzubillah… tetapi baiknya dia ini tidak sampai menjadi kompor dan memfitnah kita. Yang di atas tadi juga SMS dan berkoar-koar di luaran sana. Yang ini batinnya yang bekerja.

Sedangkan yang terang-terangan membenci kita, dia melakukannya di depan kita. Yang ini menurut saya justru mudah untuk dikalahkan dan dinikmati. Di negeri kita ini orang akan mudah untuk memihak orang yang didzalimi. Yakin deh kalau kita benar-benar didzalimi atau kelihatan didzalimi, maka kita akan dibela mati-matian. Tak usahlah saya ambil contoh banyak-banyak. Saya yakin Pembaca sudah punya contohnya sendiri-sendiri. Tetapi Pembaca masih ingat PDI di jaman orde baru yang dipandang terdzalimi kan? Dibela. Kasus Prita Mulyasari? Juga. Kasus Bibit Chandra di KPK? Sama, akan dibela orang mati-matian.

Kembali ngobrol tentang orang yang membenci kita baik yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Jika Anda memang ingin mudah dalam mencapai apa yang Anda inginkan dan cita-citakan, duduklah berdampingan dengan mereka itu. Jika Anda bisa santai dan tenang duduk bersama orang yang tidak suka dengan Anda, ini adalah tanda kesuksesan bagi Anda. Jika Anda belum bisa melakukannya, sori, saya belum bisa membantu Anda.

Trus bagaimana bila orang itu jauh? Ya malah bagus tidak ketemu tetapi bukan karena kita yang lari dari masalah. Yang penting kita sudah memohon maaf meskipun belum tentu salah. Ingat, orang bijak bila ada permasalahan, tetap memohon maaf meskipun belum tentu salah. Karena apa? Karena dia yang paham bahwa sebenarnya dalam hidup ini tidak diperlukan adanya pertengkaran, permusuhan dan perselisihan. Yang ada hanya saling menyayangi dan saling membantu. Ada masalah dibicarakan dengan jelas dan tidak ngelantur kemana-mana. Tidak dengan prasangka dan tuduhan yang tak berdasar. Insya Allah semuanya menjadi semakin baik bila semua orang hanya marah dengan tujuan yang jelas. Sehingga setelah tujuannya tercapai, hilanglah marahnya dan menganggap semuanya sebagai hikmah yang baik untuk kehidupan ke depan. Semoga kita bisa seperti itu. Amin…

Mau tidak saya beri sebuah rahasia? Jika kita melakukan yang tadi, yang tenang saat berdekatan maupun berdampingan dengan mereka yang membenci kita, kita akan banyak mendapatkan keuntungan. Pertama, kita akan dianggap orang baik yang pantas mendapatkan apa yang kita inginkan. Setidaknya mereka menganggap kita tidak tahu bahwa mereka membenci kita. Sehingga kita tidak perlu banyak mengeluarkan tenaga untuk berfikir menyelesaikan masalah benci membenci itu. Kedua, mereka akan berfikir, manusia macam apa ini, dibenci kok tidak mempan? Dan endingnya mereka akan luluh dan hilang amarahnya mendapati kebaikan kita itu. Ketiga, jika kita mendahului berbuat, pasti kita akan mendapatkan panennya. Jika kita mendahului marah pada orang, cepat atau lambat orang itu akan marah pada kita. Dan jika kita mendahului baik dan damai kepada orang, bahkan orang sejahat apapun, maka, cepat atau lambat dia akan baik kepada kita. Ingat? Di dunia ini ada hukum tarik menarik, hukum tebar tuai dan hukum sebab akibat. Keempat, Allah itu maha pembolakbalik hati. Dalam sekejab orang bisa berubah, dan dengan keramahan yang tidak kita buat-buat, ini bisa menjadi asbab orang berubah sikap dari yang jahat menjadi baik. Mungkin ini bisa terjadi dalam sekejap. Kelima dan seterusnya, silakan dicari sendiri hehehe..

Jadi kalau Anda memang ingin sukses, maka kedamaian dan kebaikan sajalah yang Anda tebarkan. Jangan pernah marah dengan tidak sopan, Anda akan merugi. Jika Anda marah silakan, tetapi harus fokus pada apa tujuan Anda marah itu. Dan syaratnya harus dilakukan dengan sopan. Semoga menginspirasi.

****

Zero Action, Bebersih Diri Kelima (Dari buku Menjadi 24 Karat Karya Moeslih Rosyid)


e. Kosongkan diri dari segala hal negatif (zero action)

Saya sangat sering mengingatkan teman-teman dan keluarga saya bahwa pikiran adalah undangan, dan berfikir berarti mengundang. Dalam buku Mengobati Penyakit Itu Mudah (MPIM) mensyaratkan bagi orang yang ingin sehat jasmani dan rohani harus bisa melaksanakan zero action. Yaitu mengosongkan diri dari segala yang buruk dari dalam pikiran dan hati kita.

Terhadap apa yang kita inginkan dan cita-citakan, sama, kita harus mengosongkan diri dari semua hal yang bersifat negatif dan buruk. Yaitu benci, marah, emosi, dendam, iri, dengki dan teman-temannya. Lalu kita akan meminta kepada Allah yang nyawa dan apapun yang akan terjadi pada kita berada di tangan-Nya, keinginan itu.

Sebagaimana sering saya bahas di beberapa tulisan saya, bahwa zero atau nol bisa berada dimana saja. 0 x 100 = 0, 0 x 1 milyar hasilnya akan tetap nol. Artinya, mengenolkan diri adalah hal mutlak yang harus dilakukan bagi yang memiliki keinginan dan cita-cita. Mau?

Nah, dari tulisan inilah lalu saya mendapatkan ujian dari Allah tentang menjadi nol. Saya sempat menuduh atasan saya berbuat dzalim. Dzalim ini bisa diartikan sebagai perbuatan penganiayaan dan bisa pula sesat. Saat saya tiba-tiba dimutasi non promosi tanpa alasan yang bisa dipahami, lalu saya marah. Marah selalu bagi saya adalah suatu tindakan yang memiliki tujuan. Tujuan marah saya saat itu adalah untuk memastikan saja apakah saya sedang didzalimi atasan saya atau tidak. Padahal didzalimi atau tidak sebenarnya tidak masalah bagi saya, karena semuanya pasti maunya Allah dan pasti terkandung hikmah yang besar yang akan saya peroleh. Hanya saja, sesuatu yang terjadi harus dihindari menjadi preseden buruk untuk aksi yang sama di masa yang akan datang.

Tujuan saya tercapai bahwa saya memang tidak sedikit pun memiliki kesalahan saat dimutasi itu. Bahkan menurut beliau kinerja saya sangatlah memuaskan. Jawaban dari pertanyaan mengapa saya dimutasi tanpa dikabari sebelumnya membuat saya harus menjelaskan kepada beliau tentang pentingnya komunikasi. Alhamdulillah saya telah berhasil menjadi zero dan hasil dari kata mendzalimi atau tidak sudah bukan domain saya. Lagian ternyata belakangan semakin jelas saya ketahui bahwa beliau mempunyai rencana tersendiri kepada saya. Saya sedang diseting untuk sesuatu yang sangat menguntungkan saya. Pendeknya, saya mendapat apresiasi yang luar biasa besar. Syaratnya, saya memang harus sabar dan sopan dalam kemarahan. Matur nuwun ya Allah..

Cerita berikut pantas untuk kita renungkan agar kita dimudahkan menjadi zero tadi. Ada seorang anak yang kehilangan uang Rp 10.000,- dan terus menangisi kejadian itu. Saat bertemu dengan pamannya ia ditegor, “mengapa kamu menangis Des?,” Tanya sang paman kepadanya. “Aku kehilangan uang Rp 10.000,” jawabnya yang langsung mendapatkan respon positif dari sang paman. Yaitu beliau menggantinya sebesar itu.

Namun anak ini masih tetap menangis yang tentu saja memancing rasa ingin tahu pamannya. “Mengapa kamu masih menangis?.” Dijawablah olehnya bahwa jika dia tidak kehilangan uang itu dia pasti punya uang Rp 20.000,- Lalu pergilah sang paman dengan kekecewaannya.

Saat sang ayah datang dan melihatnya menangis ia melakukan hal yang sama dengan sang paman. Bahkan ayah memberikan dua kali lipat dari jumlah yang hilang, Rp 20.000. Alhamdulillah kan? Tetapi tidak dengan anak ini, dia masih tetap menangis sembari berujar, “Kalau saya tidak kehilangan Rp 10.000 seharusnya uang saya Rp 40.000. Terus dan terus fokus pada hal yang menyakitkan dirinya. Padahal ganti dari yang hilang tadi sudah tiga kali lipat.

Seperti itulah terkadang kita ini memaknai ujian Allah. Jika hal buruk telah terjadi semestinya kita bisa berfikir dan terus mencari alasan untuk bersyukur kepada-Nya. Pasti dan sudah barang tentu bahwa setiap penderitaan yang dialami manusia, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Masih kurang yakin dengan cerita anak kehilangan uang tadi? Silakan mencari sendiri dan insya Allah janji Allah bahwa setelah kesulitan pasti akan datang kemudahan bukan bualan. Badai pasti berlalu dan janji Allah tidak pernah diingkari-Nya.

****

Memaafkan. Bebersih Diri keempat (Dari Buku Menjadi 24 Karat karya Moeslih Rosyid)


d. Memaafkan



Orang yang kerdil tidak bersedia mengampuni.

Padahal pengampunan adalah lambang kebesaran dan kejayaan seseorang

(Mahatma Gandi)



Saya sudah mengadakan penelitian kepada lebih seratus orang. Dan apa yang saya dapat tentang satu kata ini? Ternyata memaafkan adalah perkara yang sangat berat untuk bisa dilakukan oleh lembaga adam bernama manusia ini. Mengapa demikian? Tentu saja mereka tidak paham. Yang paham pasti mau memaafkan.

Asli berat untuk bias memaafkan. Apalagi untuk hal-hal prinsip yang sangat-sangat berat, ini benar-benar sangat sulit untuk dilakukan, kata sebagian dari mereka.

Inilah saatnya saya beri tahu tentang hakikat memaafkan. Allah tidak memerintahkan kepada kita untuk meminta maaf. Bukan dan sekali kali bukan. Perintah Allah kepada kita adalah untuk memaafkan. Ketika hati kita telah memaafkan apapun yang dilakukan orang kapada kita, artinya rasa syukur itu sangat dalam ada dalam diri kita. Semua kebaikan yang ada di dunia ini tak akan mungkin tercipta jika semua orang tidak bisa memaafkan. Memaafkan adalah hal yang sangat penting bagi kedamaian dunia ini. Selanjutnya dia juga berpaket dengan rasa syukur sebagai syarat bisa memaafkan. Tak mungkin orang bisa memaafkan kesalahan orang lain jika dia tidak paham dan punya rasa syukur yang tinggi kepada Tuhannya.

Sekali lagi tak satu orang pun di dunia ini yang tak pernah bersalah dan tak punya dosa. Demi Allah sekali lagi tidak ada. Dan semua orang pasti pernah membuat kesalahan kepada sesama. Kita pun pasti pernah diperlakukan tidak adil (menurut kita) oleh orang lain. Tetapi ketahuilah bahwa semua itu adalah ilmu yang sangat dan sangat bermanfaat bagi kita. Jangan masukkan ke dalam hati atas kesalahan orang. Terhadap kesalahan orang lain, cepat lupakan dan sebaliknya atas kebaikan orang lain, jangan mudah melupakannya. Maksudnya agar kita terpacu untuk terus berbuat baik sebanyak mungkin.

So, jika Anda memiliki sebuah atau beberapa buah keinginan, maafkan orang lain yang pernah berbuat salah kepada kita, lalu tebar senyum kepada semua makhluk, dan Anda akan terheran-heran, betapa indahnya hidup ini. Ingat, asalnya dari memaafkan. Sekali lagi memaafkan yang diiringi dengan rasa syukur kepada Allah Swt. Selamat mencoba.,

****

Meminta Maaf Kepada Orang yang DIdzalimi, Syarat Bebersih diri Ketiga (Dari Buku Menjadi 24 Karat Karya Moeslih Rosyid)


c. Meminta maaf kepada orang yang didzalimi

Tak seorang pun di dunia ini yang tidak pernah salah. Dalam bergaul pun tentu kita akan terkena oleh dakinya pergaulan. Yaitu salah dan lupa. Terkadang saat kita membuat kesalahan itu sadar, kadang setengah sadar dan yang paling sering tidak kita sadari bahwa yang kita lakukan itu telah mendzalimi orang lain.

Jika saat kita merenung bakda shalat, baik wajib maupun sunat, ingat kedzaliman yang telah kita lakukan, maka bersegeralah menyelesaikannya. Terlebih jika penemuan itu didapat saat shalat tahajud. Itu adalah hal yang sangat murni dan terbebas dari subyektifitas diri kita yang lemah ini. Sehingga bersegera atau setidaknya mencatat apa yang akan kita lakukan untuk menyelesaikan dan memohon maaf atas kedzaliman kita itu adalah tindakan terbaik yang bisa kita lakukan.

Nabi Adam as saat dikeluarkan dari surga, dalam sisa hidupnya membaca istighfar yang sangat terkenal itu. “Rabbana dhalamna anfusana wa in lam taghfirlana watarhamna lana kunana minal khasirin, “ wahai Tuhan kami, kami telah mendzalimi diri kami dan jika Engkau tidak mengampuni dosa kami, maka kami akan menjadi orang yang merugi.

Nabi Yunus as pun demikian. Ketika atas ujian Allah beliau dimakan ikan paus, maka hanya inilah yang dibaca. “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzalimiin,” Tidak ada Tuhan selain Engkau (Allah) sesungguhnya aku telah mendzalimi diriku sendiri. Dan banyak lagi contoh betapa seseorang yang telah mendzalimi diri dan atau orang lain dia harus menebusnya dan memohon maaf tanpa terputus untuk meraih apa yang didambakannya sesudahnya.

Demikian juga dengan kita, saat kita merasa berbuat dosa kepada sesama, bersegaralah untuk memohon maaf. Ketika permohonan maaf kita tidak diberikan, tetaplah sapa dia. Karena jika dia membenci kita, maka sesungguhnya dia tidak paham. Orang membenci sesuatu hanya disebabkan tidak paham. Karenanya dalam hidup ini kita sangat tidak dianjurkan untuk saling membenci.

****

Bersih dg Orang Tua (Langkah Pertama, b Menjadi 24 Karat Karya Moeslih Rosyid)


b. Bersih dengan orang tua

Saya sering dan sangat sering memberitahukan hal ini kepada orang di berbagai kesempatan. Bukan di forum diskusi maupun pengajian saja, saat saya belajar dari orang sakit (maksudnya saat mengadakan terapi) saya selalu berpesan bahwa orang tua kita adalah Tuhan kita. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa seandainya ada yang boleh disembah selain Allah, maka kita harus menyembah orang tua kita.

So, jika sekarang ini Anda sedang bermasalah dengan orang tua, jangan harap apa yang Anda inginkan dan cita-citakan akan tercapai dengan mulus. Mungkin sukses itu hanya akan ada dalam mimpi Anda jika tidak segera menyudahinya. Mereka adalah orang penting dalam hidup kita yang perilaku kita kepadanya akan membawa kita pada kebahagiaan sejati atau sebaliknya.

Untuk itu, saat ini juga, beri batas bagian ini, tutup buku ini dan dekati beliau. Mohon maaflah terhadap segala yang telah Anda lakukan yang tentunya banyak kesalahan dan kekhilafan. Jangan sungkan. Ingat masa depan Anda ada di tangan mereka. Cium tangannya, peluk beliau dan menangislah di pangkuannya.

Kalau beliau jauh gimana dong? Datangi dan lakukan hal yang sama. Jika tidak mungkin teleponlah dan kosongkan kedongkolan atau apa saja yang buruk yang ada diantara Anda dengan mereka.

Lha kalau beliau telah meninggal dunia bagaimana? Tetap ada jalan. Kirim doa kepada beliau, mohon ampun kepada Allah dan datangi kerabat, teman atau siapapun yang pernah dekat dengan beliau. Bangun silaturahim dengan mereka sehingga tumbuh rasa bahagia dari perkawinan antara silaturahim dengan permohonan maaf kepada orang tua kita itu.

Banyak kisah yang bisa kita petik dengan topik berbakti pada orang tua ini. Terlalu banyak. Dan disini saya akan sedikit bercerita tentang seorang karyawan PT PLN di Jatim yang jatuh karena secara tidak sadar telah durhaka pada orang tuanya.

Awalnya Pak Bred (bukan nama sebenarnya) adalah seorang karyawan PLN yang sangat handal dan berprestasi. Rejekinya sungguh berlimpah sehingga beliau bisa membeli rumah mewah dan hidup dengan sangat sejahtera. Namun apa yang lalu terjadi? Dalam sekejap semua kekayaannya habis setelah dengan terang-terangan memaki sang ibu di depan adik-adiknya. Subhanallah…

Padahal sang ibu tidak marah. Ibunda yang terlalu banyak menderita akibat punya anak banyak ini hanya diam dan si Bred tanpa sadar berteriak di depannya. “Seharusnya saat ibu berangkat haji, pamit sama saya. Tetapi, mana?,” hardiknya yang kian membuat sang ibu sedih.

Setelah itu, derita dan permasalahan semakin banyak menumpuk, menimpanya. Bahkan sebelum kemudian dia keluar dari PLN, stempel gila telah diperolehnya. Dan pesangon yang menurut saya cukup besar itu menguap entah kemana. Tak seorang pun bisa menjelaskan kepergiannya. Dan sampai tulisan ini saya buat, dimana tiga hari sebelumnya saya bertemu dengannya, dia hanya terus dan terus mengeluh tanpa sadar bahwa kedurhakaannya kepada sang ibu telah menyeretnya pada penderitaan yang tak terperikan.

Saya sudah menganjurkan untuk datang kepada beliau dan memohon maaf secara tulus. Tidak perlu meminum air rendaman kaki ibu, tetapi memohon ampun dengan ikhlas adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya. Selanjutnya memperlakukan sang ibu yang tinggal hidup sendirian itu dengan baik dan penuh hormat penuh cinta kasih.

Semoga sekarang dan pada waktu yang akan datang Bred sadar dan bakti pada sang ibu. Dan rasa syukur yang sudah mulai tumbuh itu semoga kian terpupuk dan tumbuh subur dalam dirinya. Alhasil, pasti dia akan bisa hidup bahagia dan berkelimpahan berkah. Amin.

****

Bebrsih Diri, Langkah Pertama menjadi 24 Karat (dari buku M-24-K karya Moeslih Rosyid)

Bebersih Diri




Saya masih berkeyakinan bahwa jika kita punya cita-cita atau keinginan dan masih terus membuat dosa, menyakiti orang lain dan membuat kedzaliman, maka keinginan dan cita-cita itu tak akan pernah bisa terwujud. Andaipun ternyata bisa menjadi kenyataan, itu hanyalah realisasi semu yang pada saatnya bisa hilang tanpa bekas. Bahkan mungkin bisa berubah menjadi petaka yang tak bertepi jika tetap kurang syukur. Kalau Pembaca tidak sepakat dengan formula ini, mohon jangan mencoba, karena apa yang saya katakan tadi akan menjadi kenyataan.

Pembaca pernah tidak, merasakan bahwa antara puncak kesuksesan dan puncak kegagalan itu hanya beda tipis? Sebagai contoh diri saya sendiri. Ketika saya menangani sebuah acara atau memegang proyek dan berhasil, maka puncaknya hanya senang dan bangga saja yang lalu disebut puas atau apalah namanya. Sebaliknya, ketika hal yang sama dilakukan dan gagal, maka kesedihan itu seolah jika diteruskan, ditarik dan diikuti, dia akan sampai pada kepuasan juga. Puas dalam merenung dan mendapatkan posisi diri dalam suatu kondisi negatif.

Memang hidup di dunia ini seperti tempat yang kita tinggali, bumi. Dia bulat seperti bola, dan siapapun yang berusaha meraih semuanya, pasti dia akan kembali kepada asal. Bila tidak percaya silakan Pembaca mencari arah Barat. Teruslah mengejar arah Barat itu dari satu titik, maka pada ujungnya Anda akan sampai pada tempat dimana Anda berada pada awalnya. Hanya muter-muter saja.

Yang ingin saya katakan disini adalah bahwa kehidupan di dunia ini memang benar-benar hanya permainan dan senda gurau. Hidup dan mati ini diciptakan Allah hanya sebagai ujian. Kalau begitu, enjoy aja. Nikmati saja apa yang sedang berada di depan kita. Agatha Christie bilang, “Ada saat saya merasa sangat tertekan, sengsara dan putus asa. Tetapi di saat-saat seperti itu saya masih menyadari bahwa hidup adalah suatu hal yang luar biasa.”

Hugh Down juga mengatakan, “Orang yang berbahagia bukanlah orang yang tinggal di dalam keadaan tertentu. Tetapi orang yang berbahagia adalah orang yang memilih tinggal dengan sikap tertentu.”

Daaaaaan, kalau kita menginginkan sesuatu sudah barang tentu kita sedang masuk dalam suatu permainan baru. Untuk sukses mendapatkan apa yang akan kita tuju dan capai, membersihkan diri adalah hal mutlak yang harus kita lakukan. Itu kalau kita ingin mendapatkan sukses sejati. Bukan sukses samar yang tak jauh beda dengan kegagalan tadi. Sukses yang benar-benar membawa diri kita pada rasa bahagia yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Pembaca, sekali lagi saya berani mengatakan bahwa hanya dengan poin ini saja kita sudah bisa menjadi 24 karat. Yaitu suatu kondisi bahwa apapun yang kita inginkan dan cita-citakan akan tercapai. Dan sayangnya biasanya orang dalam kondisi ini justru tidak terlalu banyak keinginan dan cita-citanya. Mereka ini sudah mampu melaksanakan istinjak awal yang empat itu. Yaitu (1) Cuci mulut dari kata kotor, ghibah (suka ngrasani orang) dan teman-temannya. (2) Cuci perut dari makanan haram dan subhat (meragukan tingkat kehalalannya). (3) Cuci hati dari niat jahat dan dosa. (4) Cuci seluruh tubuh dari gejala dosa. Berani? Dan Anda bukan saja bisa mencapai apa yang Anda inginkan jika sudah bisa melakukan istinjak awal ini, akan lebih hebat dari itu. Bahkan kata seorang ulama sufi Anda bisa mencapai derajat waliyullah. Wallahu a’lam

Lalu berada dimanakah posisi kita sekarang? Andalah yang paling tahu dan seharusnya selalu mengetahui posisi Anda. Jangan sampai kita tidak tahu apa-apa lalu jatuh tersungkur dan semuanya menjadi gatot, gagal total. Naudzubillah

Bagaimana cara kita membersihkan diri? Inilah beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mandi demi membersihkan diri dari daki-daki salah dan dosa yang menghalangi kita mendapatkan apa yang kita inginkan dan cita-citakan.

*****

Senin, 23 April 2012

Bebersih Diri (Langkah Pertama Menjadi 24 Karat) dari buku Menjadi 24 Karat karya Moeslih Rosyid




Saya masih berkeyakinan bahwa jika kita punya cita-cita atau keinginan dan masih terus membuat dosa, menyakiti orang lain dan membuat kedzaliman, maka keinginan dan cita-cita itu tak akan pernah bisa terwujud. Andaipun ternyata bisa menjadi kenyataan, itu hanyalah realisasi semu yang pada saatnya bisa hilang tanpa bekas. Bahkan mungkin bisa berubah menjadi petaka yang tak bertepi jika tetap kurang syukur. Kalau Pembaca tidak sepakat dengan formula ini, mohon jangan mencoba, karena apa yang saya katakan tadi akan menjadi kenyataan.

Pembaca pernah tidak, merasakan bahwa antara puncak kesuksesan dan puncak kegagalan itu hanya beda tipis? Sebagai contoh diri saya sendiri. Ketika saya menangani sebuah acara atau memegang proyek dan berhasil, maka puncaknya hanya senang dan bangga saja yang lalu disebut puas atau apalah namanya. Sebaliknya, ketika hal yang sama dilakukan dan gagal, maka kesedihan itu seolah jika diteruskan, ditarik dan diikuti, dia akan sampai pada kepuasan juga. Puas dalam merenung dan mendapatkan posisi diri dalam suatu kondisi negatif.

Memang hidup di dunia ini seperti tempat yang kita tinggali, bumi. Dia bulat seperti bola, dan siapapun yang berusaha meraih semuanya, pasti dia akan kembali kepada asal. Bila tidak percaya silakan Pembaca mencari arah Barat. Teruslah mengejar arah Barat itu dari satu titik, maka pada ujungnya Anda akan sampai pada tempat dimana Anda berada pada awalnya. Hanya muter-muter saja.

Yang ingin saya katakan disini adalah bahwa kehidupan di dunia ini memang benar-benar hanya permainan dan senda gurau. Hidup dan mati ini diciptakan Allah hanya sebagai ujian. Kalau begitu, enjoy aja. Nikmati saja apa yang sedang berada di depan kita. Agatha Christie bilang, “Ada saat saya merasa sangat tertekan, sengsara dan putus asa. Tetapi di saat-saat seperti itu saya masih menyadari bahwa hidup adalah suatu hal yang luar biasa.”

Hugh Down juga mengatakan, “Orang yang berbahagia bukanlah orang yang tinggal di dalam keadaan tertentu. Tetapi orang yang berbahagia adalah orang yang memilih tinggal dengan sikap tertentu.”

Daaaaaan, kalau kita menginginkan sesuatu sudah barang tentu kita sedang masuk dalam suatu permainan baru. Untuk sukses mendapatkan apa yang akan kita tuju dan capai, membersihkan diri adalah hal mutlak yang harus kita lakukan. Itu kalau kita ingin mendapatkan sukses sejati. Bukan sukses samar yang tak jauh beda dengan kegagalan tadi. Sukses yang benar-benar membawa diri kita pada rasa bahagia yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Pembaca, sekali lagi saya berani mengatakan bahwa hanya dengan poin ini saja kita sudah bisa menjadi 24 karat. Yaitu suatu kondisi bahwa apapun yang kita inginkan dan cita-citakan akan tercapai. Dan sayangnya biasanya orang dalam kondisi ini justru tidak terlalu banyak keinginan dan cita-citanya. Mereka ini sudah mampu melaksanakan istinjak awal yang empat itu. Yaitu (1) Cuci mulut dari kata kotor, ghibah (suka ngrasani orang) dan teman-temannya. (2) Cuci perut dari makanan haram dan subhat (meragukan tingkat kehalalannya). (3) Cuci hati dari niat jahat dan dosa. (4) Cuci seluruh tubuh dari gejala dosa. Berani? Dan Anda bukan saja bisa mencapai apa yang Anda inginkan jika sudah bisa melakukan istinjak awal ini, akan lebih hebat dari itu. Bahkan kata seorang ulama sufi Anda bisa mencapai derajat waliyullah. Wallahu a’lam

Lalu berada dimanakah posisi kita sekarang? Andalah yang paling tahu dan seharusnya selalu mengetahui posisi Anda. Jangan sampai kita tidak tahu apa-apa lalu jatuh tersungkur dan semuanya menjadi gatot, gagal total. Naudzubillah

Bagaimana cara kita membersihkan diri? Inilah beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk mandi demi membersihkan diri dari daki-daki salah dan dosa yang menghalangi kita mendapatkan apa yang kita inginkan dan cita-citakan.

Minggu, 01 April 2012

Sufi Miskin Ditegor oleh Sufi Kaya (dari buku DIlarang Miskin/DM karya Moeslih Rosyid)

e. Sufi miskin ditegor oleh sufi kaya
            Seorang murshid yang pekerjaannya memancing ikan di sungai menyuruh santrinya untuk berguru kepada seorang sufi ternama. Santri itu menyanggupinya. Dicarilah sufi yang dimaksudkan oleh sang murshid dengan penuh perjuangan yang berat.
            Setelah akhirnya sang santri bertemu, ia merasa takjub dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ditanyakanlah kepada para tetangga apakah benar bahwa pemilik rumah mewah itu seorang sufi. Ternyata mereka membenarkannya. Bahkan lebih kaget lagi sang santri saat menyaksikan betapa sang sufi memakai pakaian mewan dan kendaraan yang sangat bagus.
            Di tengah gejolak pikirannya yang menyangsikan sang sufi. Santri itu langsung mendapat tegoran dari sufi. “saya sudah tahu maksud kedatanganmu. Tolong sampaikan salamku kepada gurumu. Aku berpesan kepadanya agar tidak selalu sibuk dengan urusan dunia.”  sang santri kaget bercampur emosi mendengar gurunya dihina seperti itu. Terlebih gurunya yang sangat alim dan zuhud dinasehati oleh orang kaya seperti itu. “Bukankah yang sibuk mengurus dunia adalah dirinya?,” teriak batinnya.
            Mengalami selftalk (perdebatan dengan dirinya sendiri) yang demikian gencar, akhirnya sang santri memutuskan untuk pulang. Dibatalkan niatnya untuk belajar kepada sufi itu. Nalarnya tidak menerima seorang yang kaya raya mengkritik sufi yang benar-benar menjalani hidupnya dengan sangat sederhana.
            Tiba di pesantren dimana dulu ia belajar, sang santri melaporkan semua kejadian itu kepada gurunya. Mendengar kisah itu, sang guru menangis dan membenarkan nasehat sufi itu. Untuk lebih membuat sang santri paham, sang murshid menjelaskan bahwa kekayaan yang dimiliki sufi kaya raya itu hanya diperuntukkan demi agama Allah. Sufi kaya itu pun tak pernah berfikir bagaimana mendapatkan harta. Sementara dirinya, setiap hari masih ingin mencari ikan untuk hidupnya, katanya.

Para Sufi aja Kayaraya kok (dari Buku DIlarang Miskin karya Moeslih Rosyid)

c. Para sufi  kaya raya kok…
            Mungkin pembaca pernah mendengar atau membaca kata zuhud. Zuhud ini biasanya dikaitkan dengan kehidupan para sufi. Dan sebagian besar dari para sufi ini adalah waliyullah, kekasih Allah.
            Zuhud menurut buku Mukasyafatul Qulub buah tangan Imam Ghazali adalah meninggalkan atau menghindar dan menjauhi kenikmatan dunia. Karena kenikmatan dunia bukan tujuan utama. Dengan kenikmatan dunia itu tidak menjadikan seseorang terlena dari mengingat dan mengabdi kepada Allah. Dunia dijadikan alat untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu akherat yang abadi.
            Zuhud sebenarnya bukan tidak mencintai dunia, dan tidak identik dengan kemiskinan dan kemelaratan. Justru menurut saya, orang dikatakan zuhud jika ia kaya raya, tetapi tidak merasa mencintai dan memiliki kekayaan. Orang zuhud senantiasa mengingat Allah dan tidak pernah condong kepada harta. Dia hanya menjadi kran penyalur harta untuk orang yang membutuhkan. Zuhud bukan bermakna hidup miskin dan kekurangan, mengenakan pakaian compang-camping, serta bertubuh kotor. Apalagi kemana-mana mengemis untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Tetapi yang meminta (mengemis) dan dia tidak membutuhkannya atau hasil mengemisnya untuk orang lain, termasuk golongan orang zuhud. Salah satu contoh adalah Tuan Guru Haji (TGH) Tretetet yang mempunyai nama asli TGH Ahmad Atto.
            Para sufi tidak menghindari kesenangan dunia. Mereka tetap berusaha dan bekerja untuk mendapatkan rejeki di dunia. Tetapi mereka tidak terlena dengan berlimpah harta, namun terus dan terus meningkatkan ketakwaan demi mengabdi kepada Tuhannya.
            Qs Al baqarah : 198 menegaskan bahwa mencari rejeki tidak dilarang. “laisa ‘alaikum junaahun an tabtaghu fadhlan min rabbikum’. Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rejeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu (Qs Al baqarah : 198).
            Saya yakin pembaca pernah mendengar para tokoh sufi yang sangat terkenal itu. Diantara mereka ada yang kaya raya yang hartanya dimanfaatkan untuk mengabdi kepada Allah SWT. (1) Abdurrahman bin Auf adalah  seorang saudagar yang sangat sukses. Beliau juga seorang sufi yang dijamin Allah masuk surga. (2) Imam Hanafi yang nama aslinya Nu’man bin Tsabit adalah seorang imam. Beliau juga salah seorang pendiri madzhab dalam islam. Imam hanafi adalah seorang pedagang kain yang sukses dan kaya raya di Irak. Kejujuran menjadi darah baginya. Jika beliau menjual kain yang cacat, maka diberitahukannya kepada pembeli.
            Imam Hanafi dengan kekayaan yang melimpah setiap tahunnya menghitung labanya. Laba itu dimanfaatkan olehnya untuk sekedarnya mencukupi kebutuhannya. Sisanya dibelikan barang-barang kebutuhan sehari-hari, seperti makanan dan pakaian bagi qari’ (pembaca Qur’an), ahli hadits, ulama fiqih dan para penuntut ilmu. Selain itu Imam Hanafi juga memberikan sejumlah uang kepada mereka seraya berkata “ini adalah laba dari barang dagangan kalian yang diberi oleh Allah melalui tanganku. Demi Allah aku tidak memberi sedikitpun kepada kalian dari hartaku. Melainkan karunia Allah kepada kalian. Sesungguhnya tidaklah seseorang memiliki kemampuan untuk mendapatkan rejeki , kecuali dari Allah SWT”.
            Bila pembaca sering membaca buku tentang para sufi tentu akan mengenal seorang bintang sufi. Kalau belum, maka akan saya perkenalkan dengan beliau. Beliau adalah (3) Syech Junaid Al Baghdadi. Menurut Junaid, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia. Dengan bersikap zuhud, seseorang hanya menempatkan dunia di tangannya, bukan di hatinya.
            Syech Junaid Al Baghdadi juga seorang pedagang yang sukses. Beliau memiliki gedung perniagaan di kota Baghdad yang banyak dikunjungi orang. Sebagai guru sufi, beliau tidak terlalu disibukkan oleh bisnisnya. Kedekatan kepada Allah adalah tujuan hidupnya.
Hingga suatu hari beliau dikaruniai Allah sakit mata. Kata tabib matanya tidak boleh terkena air. Tetapi saran tersebut tidak dilaksanakan, karena beliau harus berwudhu sebelum shalat. Ketika bangun tidur matanya sembuh dari sakit itu.
Beberapa waktu kemudian Junaid bertemu dengan tabib itu. Bertanyalah sang tabib kepadanya. “apa yang kau lakukan sehingga matamu sembuh Junaid?”, tanya tabib yang langsung dijawab bahwa ia berwudhu sebelum shalat.  Mendengar jawaban itu tabib yang beragama Nasrani itu langsung bersyahadat, sembari berkata “Ini adalah penyembuhan dari Tuhan, bukan makhluk. Wahai Junaid, sesungguhnya mataku yang sakit, bukan matamu. Kaulah tabib yang sebenarnya.”
Satu lagi Tokoh sufi dunia, agar pembaca yakin bahwa zuhud tidak identik dengan miskin. Beliau adalah (4) Syech Abu Hasan Asy Syadzili, mungkin pembaca telah mengenalnya. Beliau lahir di Maroko 593H dan masih ada ikatan nasab dengan Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Beliau juga seorang sufi yang kaya raya. Sawah dan ladang yang sangat luas dan sapi yang jumlahnya sangat banyak menjadikannya tidak terlalu sibuk dengan dunia. Tetapi kekayaan itu digunakan untuk mengabdi kepada Allah. Dan balasannya sudah bisa dipastikan, harta itu semakin hari semakin banyak akibat dermanya yang tulus.
Inilah doa Syech Abu Hasan Asy Syadzili yang patut kita contoh. “Ya Allah, lapangkanlah rejekiku di dunia, tetapi jangan Engkau jadikan rejeki tersebut sebagai penghalang menuju akherat. Ya Allah jadikanlah duniaku berada di tangaku dan janganlah Engkau masukkan dunia ke dalam hatiku.”
Masih banyak para sufi yang kaya raya selain yang empat di atas. Khalifah Umar bin Khatab Ra dan Usman bin Affan Ra adalah dua dari sekian banyak itu. Intinya, zuhud bukan berarti harus miskin dan papa. Tetapi zuhud adalah sikap dan perilaku serta keyakinan bahwa dunia adalah kendaraan menuju akherat. Dengan harta dunia, asalkan tidak takut kehilangannya, memanfaatkannya untuk kepentingan Allah adalah boleh-boleh saja.
Bahkan karena sulit diberi penjelasan, Ustadz Ikram ‘murshid’ saya pernah menghardik saya, bahwa kehidupan para sufi itu ‘busuk’. Tahun 1993 saya sempat ‘ngeyel’ untuk keluar dari pekerjaan saya sebagai karyawan Pos hanya ingin menjalani kehidupan sebagai sufi. Sekarang saya baru memahami, betapa memang harta dunia itu penting untuk mengabdi kepada Allah lebih baik. Tetapi, menjadikan harta kekayaan segala-galanya adalah suatu tindakan yang pantas untuk dilaknat oleh Allah SWT. Ada lahamdulillah, tidak ada tetap alhamdulillah. Karena kalau Allah mau, tak seorangpun bisa menghalanginya. Allah Maha Berbuat lagi Mahakuasa

Mega Investasi Allah untuk Manusia (dari buku DIlarang Miskin karya Moeslih Rosyid)

b. Mega investasi Allah untuk Manusia
Pembaca, modal untuk membuat manusia sangat mahal. Berapa nilai aktiva tangan kita, kaki, mata, ginjal, otak dan semua anggota badan kita secara fisik. Belum lagi yang tidak nampak (intangible asset), seperti perasaan, kemampuan berfikir, mendengar, melihat dan masih banyak lagi yang kalau kita ingin menghitungnya niscaya tak akan pernah mampu mengkalkulasinya (Qur’an). Nah, kalau aktiva tetap yang sudah diinvestasikan Allah sangat mahal tersebut tidak menghasilkan, tidak produktif dan karena kita jatuh miskin, betapa dosanya kita, betapa ruginya kita.
            Dalam bisnis kita juga mengenal istilah yang disebut dengan ROI (Return On Investment) atau balik modalnya suatu usaha. Kalau kita miskin bahkan tidak saja miskin harta, tetapi juga miskin hati, apa tidak keterlaluan. Padahal Rasulullah telah mengingatkan dengan haditsnya “Kadal faqru an yakuna kufran” (kemiskinan dan kefakiran hanya akan menyebabkan kekufuran). Artinya kemiskinan itu sangat berpotensi dosa. Jadi kapan balik modalnya kita?
            Kita lihat fakta yang terjadi di masyarakat. Betapa banyak kejahatan kemanusiaan  yang terjadi akibat adanya kemiskinan dan kefakiran. Media masa gencar memberitakan tindak kejahatan, dosa dan kemaksiatan yang mengatasnamakan kemiskinan. Tidak saja dosa personal tetapi beberapa sudah menjurus pada dosa komunal. Perkelahian antar warga karena rebutan lahan parkir, keributan antrian sembako, minyak tanah dan sejenisnya acapkali menghiasi pemberitaan media.
            Maka semua harus setuju bahwa kemiskinan adalah musuh kita. Karena tidak satu pun agama yang mengizinkan kemiskinan melanda umatnya. Tanggung jawab serta kepedulian terhadap keluarga dan sesama, zakat, infaq, sadaqah, haji, menuntut ilmu, dan melakukan penelitian adalah bukti bahwa semua itu tidak akan mungkin berjalan tanpa didukung oleh biaya. Artinya untuk dapat melakukan itu semua seseorang harus kaya atau tidak boleh miskin hehehehehe….

Miskin Kok DIlarang (Dari Buku DIlarang Miskin karya Moeslih Rosyid)

Miskin Kok Dilarang

a.  Manusia produk terbaik                                                                                                                        
            Sebagaimana sebuah produk, apalagi produk unggulan yang terkenal dengan sebutan ahsani taqwim, bentuk dan kualitas produk terbaik, tentu memerlukan investasi yang sangat besar. Bukan saja biaya produksi, tetapi biaya penelitian dan semua proses sebelum kemudian produk diolah biasanya juga sangat besar.
            Seperti kita pahami dalam ilmu ekonomi ada istilah product life cycle (PLC) yaitu siklus hidup suatu produk. PLC dimulai dengan tahap pengenalan (introduction) yang disusul dengan tahap pertumbuhan (growth). Setelah itu produk akan menuju pada tahap kedewasaan atau bisa dikatakan tahap kejayaan dan kematangan (maturity). Pada posisi ini produk berada di puncak. Dan siklus terakhir adalah tahap penurunan atau masa kemerosotan (decline). Manusia sebagai produk terbaik Allah nampaknya juga mengalami hal tersebut. Lahir, tumbuh menjadi remaja, dewasa dan kemudian menjadi tua.
Namun semua pemilik (owner) produk biasanya berharap dan terus berjuang agar produknya selalu berada di puncak. Kita sebagai pemilik diri, mendambakan hal yang demikian. Padahal seharusnya itu hal yang mustahil bisa terjadi. Setiap puncak identik dengan sedikit, sempit dan tidak bisa lama. Tetapi semua orang menginginkannya. Itulah manusia, itulah kehidupan dunia tempat yang serba sementara. Bahkan Bung Karno pernah berkata “seandainya masa muda bisa dibeli, berapapun harganya akan saya bayar”, katanya.
            Ada sebuah rahasia yang patut untuk kita catat, bahwa manusia bisa terus berada pada posisi maturity, bahkan selamanya. Jadi selamanya akan berada di puncak. Yaitu terus dan terus mengalami maturity dan tidak pernah decline banget. Bukankah “inna akramakum ‘indallahi atqaakum”, sesungguhnya yang paling mulia disisi Allah adalah yang paling bertakwa.
Semestinya manusia semakin tua semakin ingat mati. Semakin tua, semakin dekat kepada Tuhannya, semakin takut kepadaNya, yaitu semakin bertakwa kepada Allah SWT. Ini kita sebut dengan tua tua keladi, semakin tua semakin giat mengabdi kepada Dzat yang paling berkuasa, Allah SWT. Orang bertakwa akan seterusnya berada pada puncak. Karena amalnya akan menjaganya menuju kesana. Kalaupun harus mengalami sedikit penurunan atau surut, insya Allah akan tetap terjaga oleh amal ibadahnya. Tulisan ini akan menggiring pembaca untuk menjadi orang seperti ini. Orang yang bertakwa yang adalah produk terbaik Allah. Semoga berhasil, minimal menjadi pemicu bagi penulis dan pembaca untuk menuju kesana.

Menjadi 24 Karat (M-24-K) 7 Langkah merealisasikan keinginan, harapan dan cita-cita (Moeslih Rosyid)

Menjadi 24 Karat
(M-24-K)
7 Langkah merealisasikan keinginan, harapan dan cita-cita



Sebenarnya ide membuat tulisan tentang 24 karat ini saya dapat dari Pak Dahlan Iskan. Saat saya tulis bagian ini beliau sedang menjabat sebagai Menteri BUMN. Tetapi bukan dari BUMN-nya ide itu muncul. Kata 24 karat ada di buku beliau yang berjudul “Menegakkan akal sehat.” Jika Anda membaca, pasti setuju dengan isinya. Kecuali kalau memang ingin beda saja dan tidak mau merenungi esensinya.
            Saya sangat sepakat dengan Pak Dahlan bahwa barangsiapa yang tidak bisa mencapai apa yang diinginkannya, maka keinginan itu tidak 24 karat. Beliau hanya mengurai 24 karatnya, dan saya ingin 24 karat ini lebih detail lagi dirinci, sehingga mudah untuk dilaksanakan. Kasihan di luar sana, banyak orang stress gara-gara mendapat selisih antara apa yang diinginkan, diharapkan dan dicita-citaknnya dengan kenyataan yang ada.
            Untuk mendapatkan semua penjelasan itu ternyata tidak mudah. Sudah hampir dua tahun saya mengadakan penelitian untuk membuktikan bahwa statemen Pak Dahlan itu benar. Saya meyakini dan tentu saja untuk menjelaskan kepada orang lain tidak cukup dengan keyakinan saya saja. Saya perlu memberikan bukti-bukti meskipun itu hanya cerita logis yang saya susun berdasarkan hasil penelitian saya.
            Dari penelitian yang tepatnya saya lakukan selama 23 bulan 31 hari ini (pas hari ditulis tanggal 14-1-2012), saya berani menjamin bahwa jika keinginan, harapan dan cita-cita kita 24 karat, maka ketiganya akan bisa menjadi kenyataan. Dan syarat untuk bisa disebut 24 karat hanya ada 7 saja. Bagaimana bila sudah melaksanakan ketujuhnya namun masih belum tercapai keinginan, harapan dan cita-cita? Langkah yang harus diambil pertama kali adalah mengevaluasi, benarkah ketujuh langkah tersebut telah dilaksanakan. Bahkan hanya dengan langkah pertama saja sebenarnya sudah bisa menyelesaikan hajad kita. Dan setelah kita sudah mengevaluasi, mengulang dan benar-benar sudah melaksanakan langkah-langkah itu apa yang kita inginkan tidak kunjung diberi oleh Allah, kita sampai pada sebuah peringatan Allah. Yaitu belum tentu apa yang kita senangi dan ingini adalah baik bagi kita. Dan belum tentu pula, apa yang kita benci dan tidak sukai buruk bagi kita. Yang jelas apapun hasilnya, dengan telah melaksanakan tujuh langkah ini, kita akan bisa menerima apapun yang diberikan Allah kepada kita dengan legowo, bahagia dan penuh suka cita atas syukur yang senantiasa menyertai kita.
Ketujuh syarat tersebut adalah,  (1) membersihkan diri dari dosa, permusuhan, perselisihan, emosi dan sejenisnya. (2) Siap menderita, yang saya jamin bagi siapapun yang  siap menderita, maka dia tidak akan pernah menderita. Sebaliknya, siapapun yang takut menderita, maka dia justru akan menderita. Menderita yang saya maksud pada poin 2 adalah siap lelah dalam memperbaiki ibadahnya kepada Tuhannya, siap untuk berbuat baik kepada sesama sebanyak mungkin, dan siap menjalani penderitaan dalam proses menjadi lebih baik. (3) Militant dan pantang menyerah untuk mendapatkan apa yang diinginkan itu. Bila perlu membuat alternatif strategi teruji sebanyak mungkin. Strategi A gagal, ganti B dan seterusnya sampai misi berhasil. (4) Banyak Sharing atau memberi. Dalam agama yang ini disebut dengan sedekah. Sedekah ini bisa berupa harta benda, pikiran/solusi, tenaga, senyum dan juga doa. Jika kita memberi satu dijamin akan dibalas dengan 10 oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Yang ini tidak mengenal Suku Ras Agama dan Antar golongan (SARA). Siapapun memberi satu pasti dibalas 10. (5) Banyak bersilaturahim, bersinergi, berkolaborasi sehingga rejeki yang sudah terpampang di depan mata tinggal mengambilnya. (6) Pandai membuat proposal. Yang saya maksud dengan proposal ini bukan melulu beberapa lembar kertas tetapi juga pandai menembak dan mengeksekusi pelanggan sebagai hasil dari follow up program sesuai dengan tujuannya. Tentu sebelumnya sudah banyak bumbu masaknya. Pergaulan, pertemanan, mengikuti acara-acara, banyak tampil dan dikenal dan tentu saja berbuat baik sebanyak mungkin sesuai kemampuan dan proporsinya (7) Fokus pada apa yang diinginkan dengan membuat afirmasi-afirmasi diri untuk sukses dan memastikan semua program sudah jalan. Ingat, pikiran adalah undangan dan berfikir adalah mengundang. Jika kita berfikir bisa, insya Allah bisa. Jika berfikir sebaliknya, maka itulah yang akan terjadi. Namun poin yang berupa evaluasi ini harus terus bertumpu pada tujuan yang mulia. Jika tidak, dalam bahasa hukum disebut dengan batal demi hukum.